Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Saya bertanya kepadanya (scorang modernis dan karenanya, agak memusuhi praktik-praktik sufi) tentang kiai yang meninggal pagi ini. Kata saya, “Mengapa ia disebut kiai, apakah ia memiliki pondok?" 1a menjawab bahwa orang itu adalah kiai mistik yang memiliki pondok (di sebuah desa di pinggir kota) yang bukan terdiri atas para murid, tetapi orang-orang tua bangka yang berusia antara 50 dan 60 tahun ke atas (sekitar 30 orang setiap kalinya) yang tidak melakukan apa-apa kecuali duduk-duduk dan beribadah sepanjang hari—bersembahyang, membaca syahadat berulang-ulang mungkin 1000 kali sambil duduk, hanya pergi ke luar untuk ke kamar kecil dan kemudian masuk lagi untuk memulai lagi, hanya berdzikir serta sembahyang, seringkali mulai hari Selasa sampai Jum'at dengan istirahat sebentar untuk makan, tidur dan istirahat. Ia mengatakan bahwa karenanya, “kiai” itu hanya berurusan dengan ilmu mistik dan memimpin sebuah persaudaraan mistik. Katanya, orang ini tidak tahu apa-apa tentang figh Islam. Ia, Ashari (sang informan), tahu lebih banyak tentang itu: ia pernah berbincang-bincang dengan kiai itu 'dan bertanya kepadanya, kiai macam apakah dia yang tidak tahu hukum. Katanya, orang-orang tua berdatangan ke sana dari rumah mereka untuk tinggal kurang lebih sebulan lamanya dalam sekali datang, membawa makanan sendiri, membagi semuanya bersama-sama dan melakukan dzikir mistik berulang-ulang, mempersiapkan diri menjelang ajal. Mistisisme semacam itu di Jawa disebut tarekat. Walaupun berbagai sekte sufi telah memasuki Indonesia, di Jawa Timur ada dua sekte yang utama, Kodiriyah (Gadiriyya) dan Naksabandi (Nagshbandi). Keduanya dianggap ortodoks karena para pengikutnya tidak meninggalkan rukun yang lazim. Mereka biasanya berjalan atas dasar teori perkembangan mistik empat tahap: sarengat, menjalankan kewajiban-kewajiban Islam yang lazim: tar6kat yang berarti teknik mistik yang khususi: hakekat yang berarti “kebenaran” atau “kenyataan”: dan makrifat yang berarti pengertian. Perumpamaan yang biasa digunakan adalah mencari mutiara, bagi penyelam mutiara, perahu berarti sarengat, pekerjaan mendayung yang dilakukannya adalah tarekat, mutiaranya sendiri adalah hakekat serta pengetahuan yang diperolehnya bahwa ini benar-benar mutiara—kemampuannya membedakan mutiara yang sejati dan palsu—adalah makrifat, yang menjadi tujuan seorang penganut mistik. Metode yang dipakai ialah menghitung biji tasbih. Saya belum pernah mendengar teknik yang lebih hebat dari itu di Mojokuto walaupun menghitung biji tasbih ini selalu dihubungkan dengan puasa dan bergadang. Menghitung biji tasbih ini dilakukan dengan 99 biji