Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
membayar Rp 2,50. Akan tetapi, tidak ada kelas yang teratur: orang sekadar mengikuti apa yang diinginkannya dan tak satu pun dari cabang- cabang itu yang terkoordinasi antara satu dengan yang lain. Madrasah: Sekolah Konservatif di Mojokuto Bisa dilihat dari uraian yang lalu bahwa gagasan tentang sekolah— lembaga pendidikan yang bertingkat-tingkat, teratur jadwal waktunya dan menekankan isi—telah menembus meskipun menghadapi sikap bermusuhan para kiai, titik-titik tergelap pondok yang tak bersistem kelas, santai dan menitikberatkan bentuk. Interval berikutnya di sepanjang skala menuju sekolah sekuler diwakili oleh sekolah-sekolah NU yang dijumpai orang sekarang ini di hampir setiap desa yang penduduknya kebanyakan santri. Sekolah-sekolah ini, bebas dari ikatan dengan pondok atau kiai, merupakan kompromi khas NU dengan modernisme dan karenanya, tidak selalu diterima oleh mereka yang sangat konservatif. Walaupun NU merupakan organisasi yang konservatif, haruslah diingat bahwa dalam konteks yang lebih luas usaha-usahanya tertuju kepada pembaruan. Gagasan yang sebenar- benarnya tentang organisasi sekuler umat itu sendiri, meskipun untuk melindungi tradisi, di mata kalangan kolot merupakan sebuah gagasan yang radikal: sebagaimana halnya gagasan tentang sekolah, tidak peduli betapa besar corak keagamaannya: Siang harinya, saya berbincang dengan Kosin yang tinggal di Jalan Merapi di sebuah rumah yang besar dengan sebuah langgar yang bergandengan dengannya. Ia mengatakan bahwa ayahnya yang telah meninggal sejak zaman Belanda adalah seorang pedagang besar tembakau disini sebelum perang.... la adalah seorang haji dan salah seorang yang paling kaya di kota. Setiap orang, kata Kosin dengan bangga, mengenal yahnya. Ayahnya adalah seorang santri yang sangat kolot, mati-matian menentang Muhammadiyah dan bahkan tidak setuju dengan NU.... Ayahnya buta huruf dan menentang sekolah serta mengirim semua anaknya ke pondok. Kosin pergi ke sebuah pondok di sebelah timur Mojokuto selama delapan tahun dan tinggal di sana sepanjang waktu itu. Kiai-nya masih hidup dan memimpin pondok tersebut sampai sekarang. Kosin melukiskan kehidupan pondok yang biasa —kebanyakan mengaji kitab dan mengingat-ingat maknanya dengan mendengarkan dan mencatat terjemahan kiai. Kitab hukum, pewarisan, kehidupan keluarga dan seterusnya, semua dihafal dan maknanya dicatat. Tak