Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 288
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 288 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Arabic Original Text
Belum ada teks Arab untuk halaman ini.
Bahasa Indonesia Translation

lama kemudian—delapan tahun—NU membuka sekolah di kauman di Mojokuto dan Kosin (yang kini anggota Masyumi) belajar di sana beberapa tahun—menentang kehendak bapaknya. Katanya, pada masa itu, tak ada santri kolot yang akan mengirimkan anaknya ke sekolah- sekolah negeri: dan sekolah-sekolah yang didirikan oleh organisasi Islam, yang baru saja dimulai, juga tidak diterima dengan baik. Saya bertanya kepadanya, ke mana ia akan mengirimkan anaknya kemudian (sekarang berumur dua tahun) dan ia mengatakan bahwa ada perbedaan pendapat antara dia dan isterinya. Isterinya yang kolot menghendaki anaknya dikirim ke pondok, dia sendiri, seorang modern ingin mengirim anaknya ke sekolah. Katanya ia tidak tahu bagaimana hasilnya nanti. Sekolah-sekolah NU disebut madrasah, memiliki arti “sekolah agama" yang berbeda dengan pondok, paling tidak di Jawa. Ada 11 madrasah seperti itu di Kecamatan Mojokuto pada 1952 dengan murid yang dinyatakan berjumlah 1.500 orang, sepertiganya terdiri atas anak perempuan, dengan 37 orang guru, tiga orang di antaranya perempuan (Karena mereka ini seringkali merupakan semacam pengajar sambilan, maka jumlah ini cenderung berubah dari bulan ke bulan). Semuanya, kecuali dua, merupakan sekolah tiga tahun, sedangkan yang dua, sampai dengan kelas lima. (Sekolah Dasar Negeri, disebut sekolah, sampai kelas tiga atau enam, tetapi kebanyakan enam tahun). Sebanyak 8096 dari kurikulumnya yang disediakan untuk pelajaran agama, diajarkan mirip dengan cara pondok lama, tetapi dengan sedikit usaha untuk menjelaskan maknanya, sedangkan 2096-nya disediakan untuk “pe- ngetahuan umum” yang maksudnya adalah membaca dan menulis (huruf latin) serta berhitung sederhana. Sekalipun sekolah-sekolah ini termasuk sekolah NU, sejalan dengan organisasi pusat partai itu yang sangat longgar, sekolah itu sebenarnya bebas dan otonom di bawah arahan para pemimpin yang mengawasinya dan yang tidak meminta atau menerima banyak bantuan atau nasihat dari Dewan Pimpinan NU di kota. Karena sekolah-sekolah itu hampir seluruhnya dibiayai secara lokal, sifat tertutupnya jadi sempurna dan usaha mati-matian para pemimpin kota yang lebih modern untuk meningkatkan standar serta memperbaiki organisasinya selalu menghadapi kesulitan yang biasa. Dalam usaha menyempurnakan beberapa hal di garis ini, unit NU Mojokuto pada 1953 mendirikan sebuah mualimin atau sekolah guru yang direncanakan untuk melatih guru-guru bagi berbagai madrasah. Karena murid-muridnya (ada 24 orang pada 1953, dua orang di antaranya


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 288 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi