Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
ini dibayar, seperti halnya semua pejabat desa, dengan sawah bengkok yang lalu mereka garap sendiri. Departemen Agama dan Partai Politik Santri Dua masalah yang sedikit lebih umum memerlukan pembahasan dalam hubungannya dengan birokrasi keagamaan: pertama, hubungan antara birokrasi dengan struktur partai bersayap dua sebagaimana sudah saya gambarkan, sangat meresap dalam kehidupan santri: dan kedua, tempat birokrasi dalam kaitannya dengan perumusan Islam tentang masalah yang menjadi perhatian mendasar semua teori politik agama—hubungan yang tepat antara “Gereja" dan “Negara". Mengenai masalah partai, sudah saya utarakan bagaimana perjuangan ideologi sebelum perang antara kaum modernis dan konservatif mencapai titik intensitas maksimumnya dalam perjuangan memperebutkan posisi naib dalam keluarga yang telah mendominasi Kenaiban sejak didirikan di Mojokuto. Dengan dihapuskannya sistem semiwarisan yang didorong oleh rezim kolonial dan digantikannya sistem itu dengan birokrasi legal nasional modern serta semakin meningkatnya kecenderungan untuk mengisi jabatan lewat patronase partai, maka keluarga yang telah demikian lama mendominasi kedudukan itu tak lagi sanggup mempertahankannya. Meskipun naib yang berhasil mewarisi kedudukan lewat manuver intra-keluarga yang pahit, tidak dikeluarkan dari birokrasi, pada 1950, ia naik pangkat dan dipindahkan ke kota lain. Pengadaan jabatan lebih tinggi dalam sebuah birokrasi yang dulu hampir seluruhnya bersifat lokal memiliki arti bahwa kemungkinan untuk mobilitas dibuat sebanding dengan mereka yang menjadi pegawai negeri. Akibatnya, stabilitas kedudukan, dimana seorang yang diangkat sebagai naih akan tetap menjabatnya sampai dia wafat, telah diguncang dan diganti dengan sebuah sistem dimana ada pergantian personil secara tetap serta perlombaan terus-menerus di antara kedua partai santri yang besar untuk mendapatkan kedudukan. Singkatnya, setelah naib tua yang sekarang menjadi anggota Masyumi itu dipindahkan, Nahdatul Ulama, sebagian karena pimpinan nasionalnya adalah Menteri Agama pada waktu itu, mampu mengambilalih semua jabatan, kecuali satu, di KUA Mojokuto. (Naib- nya adalah ketua NU Mojokulo: iman-nya adalah sekretaris partai). Keadaan ini sangat mengusik kaum modernis.