Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 314
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 314 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Arabic Original Text
Belum ada teks Arab untuk halaman ini.
Bahasa Indonesia Translation

H. Husein (seorang pemimpin Masyumi) mengatakan bahwa sekarang orang NU baru saja mengambilalih Departemen Agama dan menganggapnya sebagai wilayah mereka. Ia mengatakan bahwa H. Mukhtar (khotib) adalah satu-satunya orang Muhammadiyah-Masyumi di KUA Mojokuto sekarang. Dia tak akan berada di sana seandainya dia tak demikian pintar serta mengenal situasi sekitar dengan sangat baik, karena dia tinggal di sini sepanjang hidupnya, sehingga mereka tak akan bisa berjalan tanpa dia. Kalau saja dia orang bodoh, mereka pasti 'sudah menendangnya sejak dulu dan tak akan ada lagi orang Masyumi yang tinggal. Jadi, penguasaan birokrasi keagamaan lokal merupakan masalah penting dalam percaturan politik partai dan cenderung memiliki arti penting untuk organisasi umat pada umumnya, bahkan menentukan pilihan masjid. Ia (seorang modernis muda dan anggota keluarga yang sebelumnya menguasai jabatan naib sebelum perang) mengatakan bahwa di masa lalu ketika pamannya menjadi naib di sini, begitu banyak orang datang ke masjid di hari Jum'at—begitu banyak, sehingga meluap sampai ke halaman. Pada masa itu, Ali (Ketua Masyumi), Iskak (Ketua Muhammadiyah) serta naib sendiri selalu memberikan khotbah. Sekarang, naib-nya tidak begitu bagus dan kurang disukai: karenanya, keadaan menjadi lembam serta hampir semua khotbah disampaikan oleh orang NU dan kebanyakan mengenai agama, hanya ditambah embel- embel “Kita harus memilih Negara Islam” di bagian akhirnya. Sekarang, sebagian besar orang Muhammadiyah pergi ke masjid lain, misalnya ke Banyuurip (sebuah desa yang menjadi basis Masyumi, sekitar tujuh kilo- meter dari Mojokuto).... la mengatakan bahwa kebanyakan khotbahnya sama saja sekarang ini sejak pengambilalihan oleh NU—bertakwa kepada “Tuhan serta berbuat baiklah—dan tidak begitu menarik. Mereka tidak sesuai dengan zaman. Walaupun penguasaan NU atas Kenaiban Mojokuto memberikan kedudukan yang lebih baik terhadap partai itu daripada Masyumi, pemimpin-pemimpin Masyumi tampaknya lebih berhasil di tingkat kabupaten dan provinsi (walaupun penghulu-nya, yakni kepala birokrasi agama kabupaten, juga seorang NU sekarang, menantu pemimpin NU Mojokuto dan keluarga modernis yang sebelumnya menguasai jabatan itu tak lagi berkuasa). Seorang pemimpin Masyumi diangkat—"paruh waktu”—untuk menulis khotbah bagi Jawatan Penerangan Agama


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 314 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi