Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
mengerjakan sembahyang itu secara perlahan-lahan dan teratur, sehingga lebih khusyu, sementara yang 23 selalu dikerjakan dengan tergesa-gesa. Orang-orang tua yang menyukai sistem 23, menganggap bahwa lebih banyak jumlah raka'at, lebih besar pahalanya: yang lebih muda, biasanya dan orang-orang yang lebih khusyu, yang menyukai 11, menganggap bahwa kalau orang tidak mengerjakan sembahyang itu secara mendalam serta khusyu, ia tidak akan mendapat pahala samasekali. Konflik tentang darus menyangkut soal apakah peserta harus membaca Al Gur'an secara bergantian atau bersama-sama. Sistem tradisional yang masih dilaksanakan NU adalah setiap orang membaca satu dari 30juz Al Gur'an (bukan surat yang tak sama panjangnya, tetapi juzyang sama panjangnya, setiapjuz 1/30 dari Gur'an) secara bergantian untuk dikoreksi oleh yang lainnya bila ia melakukan kesalahan. Tak ada usaha untuk menamatkan seluruh Al Gur'an dalam satu malam. Akan tetapi, karena tiap langgar mencoba menamatkan Al Gur'an satu atau dua kali dalam bulan itu, maka pengajian itu, dengan sistem ini, sering berlangsung sampai pukul tiga atau empat pagi. (Orang santri banyak tidur di siang hari pada bulan puasa). Metode lainnya adalah para peserta duduk di sepanjang bangku, masing-masing diberi satu juz untuk dibaca, kemudian setiap orang mengaji sekaligus sehingga terdengar hiruk-pikuk bahasa Arab yang salah lafal dan dengan demikian, menamatkan seluruh Al Gur'an dalam waktu satu jam atau lebih. (Kalau jumlah orangnya kurang dari 30, orang yang lebih dulu merampungkan juz bagiannya berlari ke ujung bangku lainnya dan mulai membaca salahsatu juz yang berlebih). Tidak terlampau tepat untuk menggambarkan perbedaan dua sistem ini dalam pengertian modern-kolot: ia lebih merupakan perbedaan antara desa dan kota (kecuali perbedaan tentang taraweh). Di kota, kebanyakan santri adalah pedagang atau tukang, khususnya tukang jahit. Karena akhir liburan puasa, Idul Fitri, merangsang belanja besar- besaran (teristimewa pakaian, sebagaimana kita pada hari Paskah, setiap orang pergi ke luar dan berkeliling dengan pakaian baru kalau bisa) maka pekerjaan bagi kebanyakan orang-orang ini lebih berat pada bulan puasa daripada dalam bulan-bulan lainnya di tahun itu. Pada umumnya orang Muhammadiyah tidak mengerjakan darus samasekali karena menganggapnya semata-mata sebagai pola kolot. Namun, sistem pembacaan Al Gur'an secara bersamaan dilakukan oleh orang-orang NU kota dan kaum modernis yang lebih moderat dan tidak tahan duduk