Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
semalam suntuk mengaji Al Gur'an, tetapi juga tidak bisa mengabaikan darus samasekali. Ia (seorang anggota PSII dan kepala langgar kota) mengatakan bahwa ia tidak menyukai sistem baru itu, tetapi tetap mengerjakannya di langgar-nya. Sistem itu membuat mustahil membetulkan pembaca Al Gur'an yang merupakan maksud sebenarnya dari darus dan pada umumnya lebih dangkal. Alasan utama kepopulerannya adalah bahwa di kota, orang tidak memiliki waktu untuk duduk dan membaca Al Gur'an serta ingin bergegas pergi. Saya bertanya kepadanya, apa sebab ia tetap mengerjakannya, meskipun ia tidak menyukainya. Mula-mula ia mengatakan masih mampu melakukan koreksi bahkan ketika semua orang membaca sekaligus. (Ia mengatakan bahwa ia hanya mengizinkan orang-orang untuk membaca bersama kalau ia tahu bahwa Orang- orang itu sanggup melakukannya. Mereka yang belum baik bacaannya disuruhnya membaca satu juz sendirian). Akhirnya, ia mengaku bahwa mereka yang sering mengunjungi langgar kebanyakan adalah anak- anak muda, mereka ingin keluar pada waktunya agar bisa mengejar pertunjukan kedua di gedung bioskop. Sembahyang di bulan puasa mencapai puncaknya dengan sem- bahyang pagi hari di akhir liburan puasa, Idul Fitri. (Hanya santri yang menyebutnya dengan nama ini. Yang lain menyebutnya Riyaya dalam bahasa Jawa dan Hari Raya dalam bahasa Indonesia). Muhammadiyah menyelenggarakan sembahyang di lapangan umum: NU, yang ortodoks sampai akhir, menyelenggarakan sembahyang di masjid. Biasanya lebih banyak orang pergi ke masjid daripada ke lapangan, tetapi sembahyang dilapangan biasanya ditandai dengan hadirnya segelintir priyayi tinggi yang tidak pernah ke masjid, tetapi muncul pada sembahyang Idul Fitri, sebagaimana halnya beberapa di antara kita muncul di gereja pada hari Paskah dan Natal. (Sembahyang di luar ruangan dilaksanakan oleh Muhammadiyah di lapangan umum pada hari raya Idul Adha, “Hari Kurban”, sebagaimana juga pada hari Idul Fitri). Ketua Masyumi biasanya memberikan khotbah di lapangan. (Upacara sembahyang yang dilakukan NU di masjid hampir sama dengan sembahyang Jum'at, hanya lebih ramai). Waktu saya mendengarkannya, ia berbicara tentang persamaan kedudukan perempuan dalam Islam, keperluan bangsa Indonesia untuk belajar ilmu pengetahuan dan kenyataan bahwa di seluruh dunia, semua umat Islam sedang mengerjakan sembahyang yang sama.