Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Penetapan hari akhir puasa (sebagaimana permulaannya) merupakan sumber pertikaian pendapat antara kelompok modern dan konservatif. Beberapa minggu sebelum puasa, orang Muhammadiyah menerima pengumuman kapan tanggal mulai dan akhirnya dari kantor pusat di Yogyakarta, dimana jatuhnya hari-hari itu dihitung oleh pemimpin-pemimpin mereka menurut sistem hitungan perjalanan bulan (disebut falak) yang terdapat dalam kitab-kitab Islam. NU dan juga Departemen Agama yang didominasi oleh NU karena tidak percaya kepada sistem ini, seperti juga banyak kaum empirisis yang gelisah, selalu harus menunggu bulan benar-benar muncul. Karena bulan selalu muncul seperti ramalan Muhammadiyah, ini menyebabkan mereka memiliki posisi lebih baik dari NU dalam beberapa hal, seperti pengumpulan zakat fitrah. Naib (dan Ketua NU) mengatakan bahwa cara terbaik adalah menunggu sampai malam hari dimana bulan puasa diperkirakan akan berakhir dan melihat apakah bulan memang muncul. Katanya, bagi dia dan NU, yang pada hakikatnya hati-hati, hal itu seperti kalau orang menambahkan sederetan angka untuk mengetahui seberapa banyak ia memiliki uang. Ketika selesai menambahkan angka-angka itu, ia masih menghitung uangnya untuk memeriksa apakah jumlahnya cocok dengan angkanya: dan kalau tidak cocok, orang lebih mempercayai jumlah uang yang dihitungnya daripada angkanya. Muhammadiyah, di pihak lain, mempercayai angka-angka itu. Karenanya, mereka lebih dulu tahu kapan harinya akan tiba dan tidak perlu menunggu untuk menyaksikan sendiri apakah bulan itu muncul atau tidak. Menurut pendapatnya, ini agak kurang hati-hati, tetapi mengakui dengan agak sedih bahwa Muhammadiyah tampaknya selalu benar. Di Sumbersari (sebuah desa yang dekat), Ketua Masyumi bercerita kepada saya dengan gembira bahwa Masyumi memperoleh hasil lebih baik dalam usaha zakat fitrah- nya ditahun ini karena ia dan semua anggota partai lainnya merasa yakin bahwabulan akan muncul seperti diramalkan oleh Muhammadiyah. Kare- nanya, tak ada persoalan, sehingga bisa terus melanjutkan pengumpulan zakat. Akan tetapi, NU bimbang, tidak merasa pasti kapan bulan akan keluar, sehingga akibatnya mereka terlambat mulai dan tidak begitu berhasil. Mengenai puasa itu sendiri, untuk sebagian besar hanya kaum santri yang melaksanakannya dengan baik walaupun beberapa orang abangan dan sejumlah priyayi juga melakukannya, mengingat puasa merupakan kebiasaan Hindu-Buddha maupun Islam dan sudah berakar dalam