Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
kebudayaan secara umum. Massa besar bukan santri tidak berusaha melakukan puasa: tak pula mereka berpura-pura melaksanakannya. Pada bulan puasa, mereka makan di jalan dan di warung kopi secara terang-terangan di depan mata kalangan santri yang berpuasa, tanpa ada perasaan bahwa itu tidak sopan atau tak berperasaan—walaupun kaum santri tentu menganggap orang yang tidak berpuasa sebagai orang Islam yang kurang sempurna. Seorang haji yang saleh dan berpuasa, tetapi memiliki warung kopi, menceritakan kepada saya bahwa ia berusaha keras untuk tetap membuka warungnya sepanjang bulan puasa—karena bagaimanapun juga, sekeping uang akan membantu. Akan tetapi, ia berkata dengan sedih, karena reputasinya sebagai seorang santri yang kuat, orang agak segan masuk ke warungnya pada bulan puasa karena mereka tahu ia akan menganggap mereka buruk bahkan ketika ia tidak mengatakan apa pun serta menerima uang mereka dengan bersemangat seperti biasanya dan karena itu, ia terpaksa tutup. Berpuasa sepanjang hari, setiap hari selama sebulan bagi banyak orang sangat berat. Seorang pemimpin tua NU yang berusia sekitar 70 tahun mengatakan kepada saya bahwa ia berpuasa setiap bulan puasa di sepanjang hidupnya, tetapi tak pernah terbiasa dengannya dan setiap tahun, terasa lebih berat dari sebelumnya. Ia mengatakan bahwa bagi beberapa orang, hal itu ringan, tetapi bagi yang lain, barangkali juga bagi kebanyakan orang, ia adalah bulan penderitaan. Setiap sore, orang menyaksikan santri yang berpuasa duduk-duduk dengan gelisah menantikan bunyi bedug yang menandakan waktu berbuka puasa. Ada berbagai kompromi yang dilakukan orang dengan perut mereka, seperti berpuasa hanya pada hari pertama dan terakhir di bulan puasa (yang oleh seorang kiai dalam rapat NU diibaratkan dengan tepat sebagai orang yang mengenakan topi dan sepatu, tetapi tidak memakai apa- apa di antara keduanya) atau berpuasa sampai tengah hari (sah untuk anak kecil, tetapi kebanyakan anak santri sanggup berpuasa sepanjang hari sesudah mereka berumur 12 tahun). Kompromi itu kebanyakan dilakukan oleh orang-orang yang mengatakan bahwa mereka bekerja sangat berat sehingga tak sanggup berpuasa. Akan tetapi, kebanyakan orang berpuasa atau tidak samasekali dan kebanyakan santri melakukan- nya. Kalau orang bertanya kepada kaum santri, mengapa orang harus berpuasa, mereka hampir selalu memberi tiga alasan: untuk menunjukkan keta'atan kepada perintah Tuhan, untuk merasakan bagaimana rasanya