Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 337
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 337 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Arabic Original Text
Belum ada teks Arab untuk halaman ini.
Bahasa Indonesia Translation

lapar, sehingga orang bisa memahami bagaimana rasanya menjadi orang miskin dan tidak cukup makan, untuk memperkuat diri agar orang sanggup menanggung penderitaan apa pun yang menimpanya. Puasa merupakan latihan rohani sebagaimana halnya olahraga merupakan latihan jasmani, dan seorang muda yang terpelajar membandingkannya dengan ujian di sekolah. Ia mengatakan bahwa sebelum bulan puasa, ia selalu berperasaan seperti orang yang sedang menghadapi ujian di sekolah—gelisah. Karena seperti ujian, ia selalu takut kalau tidak lulus. Tahun lalu, ia sakit sehingga tidak bisa puasa dan ia merasa tidak enak, karena semua teman- temannya berpuasa. Ketika akhir puasa tiba, ia pergi embahyang seperti kalau ia berpuasa, tetapi ia masih merasa tidak enak. Selama puasa, orang tak boleh mengerjakan hal-hal buruk, tidak boleh menggunjing atau menipu orang. Setiap hari ia meneliti perbuatannya begitu hari itu berakhir. Puasa mengubah jam makan dan menggeser jam tidur mereka yang menjalankannya. Puasa berakhir pada waktu matahari terbenam dengan hanya makanan kecil, biasanya kurma atau sepotong buah, disebut buka atau “pembukaan”. Sesudah sembahyang maghrib, makanan lengkap disajikan, kemudian disusul dengan darus dan taraweh yang sering berlangsung sampai lepas tengah malam. Pada pukul 2:00 pagi, seluruh keluarga dibangunkan oleh bunyi bedug masjid, bangun untuk saur, makan pokok di bulan puasa. Santri yang lebih saleh, khususnya didesa-desa, sering duduk membaca Al Gur'an sampai pagi dan banyak tidur pada siang hari. Dengan tibanya Riyaya, bulan terbaik ini berakhir dalam hari raya yang hampir serupa dengan hari Paskah, ketika setiap orang membeli pakaian baru, mengunjungi teman-teman dan memper- siapkan pesta: la (seorang santri modernis muda) mengatakan bahwa orang cenderung menganggap Riyaya lebih penting daripada puasa. Mereka lebih banyak berbicara tentang itu—tentang menabung untuk keperluan itu, tentang barang-barang yang ingin dibelinya. Mereka memperbincangkan semuanya itu sepanjang bulan puasa. Ketika saya tanyakan, apakah orang santri melakukan yang demikian juga, ia mengiyakan, kecuali mereka yang “mengerti”. Saya minta satu contoh mengenai mereka yang mengerti dan dia menyebutkan Pak Ali (Ketua Masyumi, Wakil Ketua Muhammadiyah) yang selalu mengatakan bahwa orang sebaiknya tidak


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 337 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi