Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 343
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 343 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Arabic Original Text
Belum ada teks Arab untuk halaman ini.
Bahasa Indonesia Translation

besarnya jumlah priyayi di kota-kota. Sebagian karena ketidakstabilan politik dari kerajaan-kerajaan masa pra-kolonial, sebagian karena filsafat mereka yang melihat ke dalam, yang lebih menghargai prestasi mistik daripada keterampilan politik, sebagian karena oposisi Belanda terhadap usaha mereka mendekati kaum tani, kaum priyayi tidak mampu menjadikan diri mereka sebagai ningrat pemilik tanah. Mereka ini, dengan sedikit pengecualian (tidak ada di sekitar Mojokuto), bukanlah baron-baron tuantanah dengan hamba-hamba atau setengah-hamba di tanah yang besar. Sebagian besar dari mereka adalah birokrat, pegawai dan guru-bangsawan kerah putih. Unsur “bangsawan” ini sekarang kurang penting. Priyayi pada awalnya merujuk kepada orang yang bisa menelusur balik asal-usulnya sampai kepada raja-raja besar Jawa pada zaman sebelum penjajahan yang setengah mitos. Namun, karena Belanda yang memerintah Jawa lebih dari 300 tahun itu, mempekerjakan kaum ini sebagai instrumen administratif dari kebijakan mereka, pengertian istilah itu meluas mencakup orang kebanyakan yang ditarik ke dalam birokrasi akibat persediaan aristokrasi yang asli sudah habis. Sekalipun demikian, bahkan di Mojokuto, yang sebagai ibukota kewedanaan dan kecamatan, mewakili jangkauan birokrasi pusat yang terendah sehingga bisa diduga pejabat-pejabatnya tidak termasuk tinggi, perasaan mengenai pentingnya keturunan bangsawan masih ada. Kemudian saya bertanya kepadanya (seorang juru gambar yang memiliki gelar priyayi di Kantor Irigasi) tentang kelas. la mengatakan bahwa hanya ada dua kelas: priyayi dan bukan priyayi. Priyayi adalah orang yang mengerjakan pekerjaan “halus”" (alus), yakni mereka yang bekerja di pemerintahan. Kelompok yang lain terdiri atas orang yang melakukan pekerjaan “kasar" termasuk petani, buruh, pedagang dan lain- lain. Ia mengatakan bahwa ini merupakan sisa-sisa sistem lama sebelum zaman Belanda, yang sedikit banyak masih berlaku di Bali sekarang: sistem Hindu yang memiliki lima kasta: (1) Brahmana, atau para pendeta dan guru: (2) Satria, atau para prajurit dan raja: (3) Waisa, atau pedagang (4) Sudra, atau petani dan tukang serta (5) Paria, yakni para pengemis. Tiga kasta terakhir benar-benar berbeda dengan dua kasta tertinggi dan kaum priyayi sekarang adalah keturunan para Satria, raja-raja serta orang istana tempo dulu. (Katanya tidak ada lagi kasta Brahmana). Saya bertanya tentang Sosro (orang yang mempunyai paling banyak tanah di kota, sekitar 323.749 meter persegi dan tadinya seorang


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 343 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi