Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Akan tetapi, untuk mulai memahami pandangan priyayi, orang harus mengerti makna sepasang konsep lain: lahir dan batin. Batin berarti “wilayah dalam pengalaman manusia” dan lahir adalah “wilayah luar tingkahlaku manusia”. Godaan yang langsung datang adalah untuk menyamakan keduanya dengan jasmani dan rohani, tetapi ini akan merupakan kesalahan yang besar. Batin tidak menunjuk kepada kedudukan terpisah spiritualitas yang terbungkus dan dapat dilepaskan dari jasmani, melainkan kepada kehidupan emosional seorang individu pada umumnya—apa yang kita sebut dengan “kehidupan dalam” atau “yang subjektif”: ia terdiri atas bentuk-bentuk perasaan pribadi yang kabur dan berubah-ubah serta langsung terasa dengan segala kesegeraan fenomenologisnya. Lahir, di pihak lain, menunjuk kepada bagian kehidupan manusia yang menjadi batas pengkajian dari ahli-ahli psikologi tingkahlaku yang ketat—tindak-tanduk gerak-gerik, sikap badan serta wicara seseorang. Kedua pasang fenomena ini, dalam dan luar, dianggap sebagai wilayah-wilayah yang kurang lebih independen untuk bisa ditempatkan menurut urutan yang tepat secara terpisah atau mungkin lebih tepat disebut berurutan. Penertiban kehidupan luar membuat seseorang bebas untuk menertibkan kehidupan dalam. Orang beradab perlu memberi bentuk baik kepada gerak fisik yang secara alamiah kasar dan membentuk tingkahlaku luarnya serta kepada keadaan perasaan yang naik turun dan mencakup pengalaman dalamnya. Seorang yang benar-benar alus senantiasa sopan. Dari kedua tugas itu, penataan kehidupan luar memang lebih mudah. Untuk mendukung pernyataan saya itu, saya sampaikan bai' bait berikut, semuanya diterjemahkan dengan sangat harfiah dari sebuah puisi panjang (atau lagu, karena puisi Jawa—tembang—selalu dapat dinyanyikan). Lagu itu disusun oleh seorang Jawa Mojokuto yang walaupun sebenarnya juga merupakan seorang santri mistik, mengekspresikan sebuah pandangan yang pada dasarnya priyayi terhadap kehidupan dalam serangkaian syair moral ini yang dimaksudkan untuk mendidik anak-anaknya: Kesopanan adalah tingkahlaku lahir, walaupun rumit, mudah dipelajari kalau hanya Anda mau, karena tingkahlaku itu bisa didengar dan dilihat, kalau Anda memperhatikan dengan cermat dan sampai detail, mengu- langinya terus-menerus,