Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 350
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 350 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Arabic Original Text
Belum ada teks Arab untuk halaman ini.
Bahasa Indonesia Translation

antara pembedaan lahir-batin dan rangkaian kasar-alus menghasilkan situasi dimana peningkatan dari petani yang belum beradab serta kasar menjadi raja suci yang sangat tinggi peradabannya, berlangsung tidak saja dalam pengertian pencapaian pengalaman mistik yang lebih besar, keterampilan yang semakin tinggi dari kontemplasi batin dan penyempurnaan pengalaman subjektif, tetapi juga dalam hal semakin besarnya pengawasan formal atas aspek-aspek luar perbuatan individu, mengubahnya menjadi seni atau yang mendekati seni. Dalam tarian, wayang, musik, corak batik, etiket dan mungkin paling penting dari semua, bahasa, formalisasi estetik dari permukaan perilaku sosial merembes ke segala hal yang dikerjakan oleh orang Jawa alus. Priyayi versus Abangan: Perbedaan Umum Tentu saja tidak ada kerajaan yang berdaulat di Jawa untuk berabad- abad lamanya. Namun, Belanda tidak saja mengambil administrator pribumi, guru-guru dan pegawai dari keturunan bangsawan serta raja, tetapi juga mengizinkan dua kerajaan Yogyakarta dan Surakarta tetap berjalan selama masa kolonial setelah menghancurkan kekuatan militer mereka serta mengambil kekuasaan independen raja-raja di sana. Dengan demikian, tradisi budaya tetap hidup, dipindahkan sekarang kepada birokrasi kolonial yang makin lama makin dirasionalisasikan. Priyayi tetap menjadi pemimpin budaya dan, sepanjang menyangkut masyarakat pribumi, pemimpin politik, walaupun setiap orang tahu bahwa tempat kekuasaan yang sebenarnya dalam masyarakat telah pindah ke tangan asing. Perhatian kaum ningrat kepada etiket, seni dan mistik berlangsung terus, begitu pula peniruan petani terhadap bentuk-bentuk yang mereka kembangkan. Orientasi keagamaan priyayi lebih sulit dibedakan dengan abangan daripada dengan santri karena perubahan dari politeisme Asia Tenggara yang sinkretik (atau “animisme”, apabila istilah “kedewaan” terlalu tinggi untuk diterapkan pada danyang, tuyul dan demit) kepada monoteisme Timur Tengah lebih besar dari pergeseran agama itu kepada panteisme Hindu-Buddha. Ciri-ciri yang akan saya bahas di bawah kategori priyayi tidak hanya berlaku untuk mereka saja. Orkes gamelan dan pertunjukkan wayang, misalnya, tak dapat dikatakan tidak ada dalam kehidupan petani. Akan tetapi, hal itu dimasukkan dalam konteks ini, karena pemeliharaannya, penjelasan makna filosofis dan keagamaannya


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 350 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi