Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
majalah teologi. la menganggap lebih baik menyimpannya saja dulu karena kalau ia menerbitkannya orang mungkin tidak akan mengerti persis maksudnya dan akan tersesat. Dimensi Umum Kepercayaan Priyayi Tiga titik utama kehidupan “keagamaan” priyayi adalah etiket, seni dan praktik mistik. Saya mengakui bahwa saya menggunakan kata “agama” di sini dalam arti agak luas daripada yang lazim digunakan, tetapi tidak ada lagi yang bisa dilakukan selama faktor-faktor ini begitu berpadu, sehingga menelaahnya secara terpisah tidak akan banyak artinya. Etiket, seni dan praktik mistik merupakan usaha berurutan dari priyayi selagi ia bergerak dari permukaan pengalaman manusia menuju ke dalamnya, dari aspek luar kehidupan menuju aspek dalamnya. Etiket, polesan kelakuan antar-orang menjadi adat yang pantas dalam pergaulan, memberikan formalitas kerohanian kepada perilaku sehari- hari, disiplin ganda atas pikiran dan badan, mengungkapkan arti penting dalam melalui gerak-gerik luar. Praktik mistik, pengaturan intensif atas kehidupan pikiran serta perasaan, mengorganisasikan sumber-sumber spiritual untuk diarahkan ke kebijaksanaan yang tertinggi. Matarantai yang menghubungkan ketiganya, yakni unsur serupa yang mengikat mereka menjadi satu dan membuat ketiganya hanya menjadi modus berbeda dari realitas yang sama, adalah apa yang oleh orang Jawa— dengan meminjam sebuah konsep dari India—disebut rasa. Rasa memiliki dua arti utama: “perasaan” dan “makna”. Sebagai “perasaan” ia merupakan salahsatu pancaindra tradisional—melihat, mendengar, bicara, mencium dan merasa. Di dalamnya terkandung tiga aspek “perasaan" yang menurut pandangan kita tentang pancaindra terpisah: rasa pada lidah, sentuhan pada tubuh serta “perasaan” emosi dalam “hati"—kesedihan, kebahagiaan dan sebagainya. Rasa sebuah pisang adalah rasa-nya, sebuah firasat adalah rasa, sakit adalah rasa dan demikian pula nafsu. Sebagai “makna”, rasa digunakan dalam surat, sajak atau malah dalam pembicaraan untuk menunjukkan yang tersirat dalam jenis saran kiasan “melihat ke utara untuk mengenai yang di selatan” yang sangat penting dalam komunikasi orang Jawa. Ia juga diberi penerapan yang sama dengan perbuatan luar pada umumnya: untuk menunjukkan makna tersembunyi. “Rasa" konotatif dalam gerak tari, sikap yang sopan