Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
kepadanya, mengapa saya harus 6tok-Etok, karena tampaknya tidak ada alasan untuk berbohong. Ia mengatakan, “Oh hanya 6tok-Etok, begitu saja. Anda tak perlu punya alasan apa pun”. Kalau kita berbohong untuk maksud baik, kita harus mempunyai alasan pembenarannya untuk diri sendiri, betapapun lemahnya. Kita mengatakan kepada seorang perempuan bahwa topi buruknya itu bagus karena tidak mengatakannya adalah kasar. Kalau seseorang melihat kita pergi ke pengacara, kita mungkin akan mengatakan pergi ke bank karena kita tidak ingin mengiklankan kesulitan kita atau mengundang orang lain turut campur dalam urusan kita. Bagaimanapun juga, kita biasanya harus menemukan alasan untuk berbohong. Bagi orang Jawa (terutama priyayi)tampaknya, untuk sebagian, hal itu berjalan sebaliknya: beban pembuktian sepertinya ada di menemukan alasan pembenar untuk berkata yang sebenarnya. Jawaban yang lazim untuk pertanyaan sambil lalu, khususnya dari orang yang tidak kita kenal baik, cenderung kabur (“Mau ke mana?”—“Barat”) atau kurang benar: dalam soal-soal sepele, orang hanya mengatakan yang sebenarnya kalau memang beralasan untuk berbuat demikian. Kalau, misalnya, seorang Jawa akan pergi ke bioskop dan orang bertanya mau ke mana, mungkin ia akan menjawab “pergi ke toko”, kecuali kalau ia ingin mereka menemaninya atau kalau ia mau bertanya apakah filmnya bagus. Ketika saya hendak menemui dukun dengan tuanrumah saya, ada sekitar selusin orang yang bertanya kepadanya di sepanjang jalan, mau ke mana ia dan tiap kali jawabannya adalah mau pergi ke rumah seseorang yang jaraknya kurang lebih enam rumah dari tempat orang yang bertanya itu. Hanya ketika akhirnya ia bertemu dengan seseorang yang ia harapkan mau menemaninya, menceritakan yang sebenarnya tentang maksud kepergiannya. Pada umumnya, seorang Jawa yang sopan menghindari keterusterangan yang serampangan. Dalam ukuran etiket yang patut, €tok-Etok terutama dinilai sebagai sebuah cara menyembunyikan maksud seseorang sebagai penghormatan pada lawan bicara. Sebagaimana kata seorang informan: “Misalnya, Anda bekerja. Lalu saya datang dan memanggil-manggil dari pintu. Maka Anda berbuat seolah-olah Anda tidak bekerja, tidak mengerjakan sesuatu apa, 6tok-6tok tidak bekerja". Pola serupa berlaku dalam keharusan yang hampir mutlak untuk tidak menunjukkan perasaan kita yang sebenarnya secara langsung,