Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Seorang petani yang berbicara kepada sesama petani yang tidak akrab mungkin akan menggunakan krama madya, tetapi yang lebih lazim, ia akan menggunakan ngoko madya secara timbal balik: 3 3 — @ Orang-orang kota berpangkat menengah dan rendah yang merupakan kenalan sepintas bisa juga menggunakan ngoko madya atau krama madya secara timbal balik, kebanyakan tergantung pada keadaan, isi pembicaraan dan seterusnya. Ngoko sae, yang merupakan bidang khusus priyayi, digunakan di antara priyayi yang akrab dan sama kedudukannya, tetapi saling menganggap lawan bicaranya begitu tinggi sehingga membuat penggunaan ngoko biasa atau krama madya secara timbal-balik yang kadang-kadang digunakan dalam konteks ini, tidak pantas: 1ib ib Dimasukkannya tingkat ini dalam dialek menunjukkan keengganan priyayi menggunakan bahasa rendah kepada setiap orang yang berkedudukan tinggi. Ngoko sae digunakan kepada teman dekat dan keluarga yang sangat dikenal hingga dimungkinkan berbicara dengan akrab, tetapi yang kepadanya, orang tetap ingin menunjukkan sikap hormat yang layak. Jadi, kalimat-kalimat di tingkat ini menyelesaikan konflik antara keakraban dan sikap hormat implisit dalam pola etiket orang Jawa dengan kelembutan serta kehalusan yang lebih besar daripada yang dimungkinkan dalam dialek “orang kota” maupun “petani". Kajian semantik yang mendalam mengenai konteks dimana penggunaan tingkat-tingkat yang berbeda tentu saja akan merupakan penyelidikan yang kompleks dan meluas, karena jumlah variabel yang secara spesifik menentukan seleksi tingkat tertentu sangat banyak. Termasuk di dalamnya tidak hanya karakter kualitatif dari pembicara— usia, jenis kelamin, hubungan keluarga,' pekerjaan, kekayaan, pendi- dikan, komitmen keagamaan, latarbelakang keluarga—tetapi juga faktor