Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
yang lebih umum: misalnya, konteks sosial (dalam perkawinan, orang akan menggunakan tingkat yang lebih tinggi kepada individu yang sama daripada jika bertemu di jalan), isi pembicaraan (pada umumnya orang menggunakan tingkat yang lebih rendah ketika membicarakan hal- hal yang bersifat komersial, tingkat yang lebih tinggi ketika berbicara tentang hal-hal yang bersifat keagamaan atau estetika), riwayat interaksi sosial antara para pembicara (seseorang cenderung menggunakan tingkat yang agak tinggi, kalaupun mau berbicara, dengan seorang yang pernah bertengkar dengannya), hadirnya orang ketiga (seseorang cende- rung menggunakan tingkat yang lebih tinggi untuk berbicara dengan individu yang sama jika ada pihak lain yang mendengarkan). Semua ini memainkan peran, belum termasuk kekhususan sikap individu yang bersifat idiosinkratik. Beberapa orang, khususnya para pedagang kaya dan kepala desa yang penuh kepercayaan diri yang menganggap semuanya tidak menyenangkan serta menggelikan, cenderung berbicara ngoko kepada setiap orang, kecuali mereka yang kedudukannya sangat tinggi. Yang lain akan berganti tingkat setiap kali ada alasan yang mengharuskan demikian. Dengan demikian, pembuatan daftar lengkap faktor-faktor penentu pemilihan tingkat akan memerlukan analisis menyeluruh terhadap keseluruhan kerangka kebudayaan Jawa. Mengenai pertalian yang lebih umum antara bahasa Jawa dan kebudayaan Jawa, adalah menarik untuk dicatat bagaimana ketiga bagan itu apabila digabungkan, akan menggambarkan bagaimana ketiga kelompok itu—“orang kota”, “petani" serta priyayi—memahami sistem status di seluruh Mojokuto, bentuk sistem etiket mereka yang berubah- ubah dan bagaimana hal itu berhubungan satu sama lain—bagaimana, pada pokoknya, model ideal yang ditetapkan oleh priyayi membias lewat struktur sosial selebihnya. Bagan priyayi (Bagan 111) dengan bagian tengah yang dikeluarkan, memperlihatkan kecenderungan priyayi untuk memasukkan manusia ke dalam dua kategori: mereka yang harus dihormati dalam berbicara, yakni orang-orang yang sederajat dan yang lebih tinggi (priyayi lain) dan mereka yang bisa diajak berbicara dengan akrab, mereka yang lebih rendah (non-priyayi) serta teman akrab dan keluarga dekat. Sebagaimana dikemukakan, tingkat 1b, ngoko sae, merupakan kompromi yang baik antara sikap hormat dan keakraban. Di kalangan priyayi yang lebih halus di kota-kota besar, penghapusan ngoko madya (1a) dalam dialek mereka bahkan akan semakin memperkuat sifat dikotomis dari model sistem status mereka.