Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Bagan petani (Bagan II) menunjukkan baik berkurangnya kepekaan petani terhadap diferensiasi internal status di kelompok mereka sendi maupun pandangan mereka mengenai keseluruhan struktur itu dari bawah, dimana bagian atas sistem itu kebanyakan berada di luar penglihatan mereka. Bagan itu dalam kenyataannya memberikan sebuah kasus konkret mengenai hubungan antara pola kebudayaan ningrat dan petani yang diuraikan sebelumnya. Pola ningrat dicerminkan secara samar-samar dan agak terdistorsi dalam konteks petani, tetapi mereka tecermin di sana. Para priyayi yang berbicara mengenai (apa yang mereka anggap sebagai) bahasa Jawa yang “benar” selalu saja membuat lelucon—antarmereka sendiri atau kepada etnografer—tentang orang desa yang “bodoh" yang menggunakan kata cinten sebagai bentuk tinggi dari cina, padahal “sebenarnya" tidak ada bentuk tinggi dari kata itu. Selain itu, kata konten untuk kori (pintu) oleh orang desa dan yang terburuk, penciptaan kata-kata tinggi mereka untuk nama tempat yang seharusnya tidak berubah: Kedinten untuk Kediri: Surobringo untuk Surabaya.' Bagi petani abangan, bagaimanapun juga, bahasa priyayi, seperti juga etiket, agama, seni dan gaya hidup adalah bentuk idealnya walaupun mereka menganggapnya terlalu sulit dan terbatas untuk mereka pakai. Bagi kalangan santri, agama dan seni priyayi tidak menjadi pola yang patut ditiru, tetapi bahasa, etiket dan gaya hidupnya tetap dianggap sebagai model. Bagan I memperlihatkan hasil pergaulan bersama antar-orang dari berbagai macam tingkat kehidupan dalam konteks kota. Karena orang kota dari lapisan menengah rata-rata bergaul dengan siapa saja, mulai dari priyayi sampai petani, ia menggunakan tingkat bahasa apa saja yang kiranya masuk akal untuk situasi tersebut. Untuk berbicara dengan hormat kepada seorang petani, ia akan menggunakan krama madya (tingkat 2): kepada priyayi tinggi dengan krama inggil (3a) dan kepada orang yang sama pangkatnya atau sedikit lebih tinggi, ia akan menggunakan krama biasa (3). Akan tetapi, ia hanya akan sedikit menggunakan jenis kehalusan yang diwakili oleh tingkat 1b, ngoko sae. Jadi, sebagai pengganti pandangan dikotomis kalangan priyayi tentang struktur status (ningrat lawan sawah) dan pandangan petani yang relatif lebih egalitarian, orang kota melihat lebih banyak gradasi status di masyarakat yang lebih luas. Akhirnya, perlu juga disinggung semakin populernya bahasa Indonesia, bahasa kebangsaan yang didasarkan atas bahasa Melayu,