Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
di kalangan kelompok-kelompok tertentu, khususnya pemuda kota dan elite politik kota. Daya tarik bahasa Indonesia pada mereka yang rasa nasionalitas politiknya lebih sebagai orang Indonesia daripada orang Jawa, paling berkembang pada mereka yang menggemari produk budaya media massa Indonesia yang baru (koran, majalah, radio, bioskop) dan mereka yang ingin menempati kedudukan pemimpin dalam pemerintahan atau bisnis. Namun, penggunaan bahasa Indonesia yang sekarang diajarkan di sekolah-sekolah sedang menyebar sangat cepat melampaui kelompok-kelompok khusus tadi, hampir kepada semua penduduk kota dan kepada semakin banyak petani. Karena kebanyakan bahan bacaan sekarang berbahasa Indonesia dan bukan Jawa, melek huruf sedikit banyak diartikan dalam hubungannya dengan bahasa Indonesia meskipun bisa membaca tentu saja bukan berarti penggunaan kemampuan itu dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun penggunaan bahasa Indonesia untuk percakapan sehari-hari hanya berlaku di kalangan orang kota yang maju dan pemakaiannya mengesankan suasana “pidato” bagi kebanyakan orang Jawa, bahasa Indonesia semakin menjadi bagian integral dari kehidupan budaya sehari-hari serta akan semakin kuat pengaruhnya kalau generasi anak- anak sekolah yang sekarang, tumbuh menjadi dewasa. Namun, ia tidak mungkin menggantikan kedudukan bahasa Jawa sepenuhnya. Tampaknya paling banter bahasa Indonesia itu, setidaknya dalam jangka waktu pendek, ditakdirkan menjadi bagian integral dari sistem linguistik Jawa pada umumnya, menjadi satu jenis kalimat di antara jenis yang sudah ada, untuk dipilih pemakaiannya dalam konteks tertentu dan untuk keperluan tertentu. Sebelum pertemuan dimulai, ketika mereka (anggota sebuah sekte mistik) sedang memperbincangkan bahasa, Sujoko mengatakan bahwa orang memang tak dapat menggunakan bahasa Indonesia untuk membahas filsafat mistik. Ketika saya bertanya, apa sebabnya, ia mengatakan: “Ya, semua istilahnya dalam bahasa Jawa, itu yang pertamai kedua, bahasa Jawa cocok sekali dengan jenis pikiran itu. Akan sulit sekali untuk mengekspresikan pikiran-pikiran semacam itu 'dalam bahasa Indonesia. Pokoknya akan terasa tidak enak. “Sebaliknya, katanya, mengucapkan pidato politik dalam bahasa Jawa merupakan hal yang paling sulit di dunia ini. Rasanya seperti tidak punya ekspresi. Seseorang kemudian menambahkan, bahkan ketika orang mengunjungi rapat politik di desa-desa dan mereka menggunakan bahasa Jawa,