Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
kebanyakan kata-katanya adalah dalam bahasa Indonesia yang walaupun hadirin mungkin tidak dapat menggunakannya atau paling sedi k bisa membentuknya menjadi kalimat bahasa Indonesia, mereka bisa memahaminya dengan sangat baik. Catatan: " Robert Redfield, The Primitive World and Its Transformations (Ithaca, 1954). ? Pada umumnya memang demikian. Para pengkaji cerita rakyat (folklorist) telah mengajarkan kepada kita bahwa apa yang seringkali tampak sebagai contoh menonjol dari “seni rakyat" yang spontan, sebenarnya hanyalah karakter kota yang ketinggalan zaman, “yang jatuh ke lapisan paling bawah karena gravitasi kultural yang khas”. (Lihat G.F. Foster “What is Folk Culture?”, American Anthropologist, Vol. 55, No. 21, 1953, hlm. 159-1973). 3 Ibid. 4 Lihat R. Heine-Geldern, “Conception of the State and Kingship in Southeast Asia”, Far Eastern Guarterly, Vol. 2, 1942. 3 Social Forces in Southeast Asia (St. Paul, 1949). “ Op.Cit. ? Kutipan ini merupakan salinan dari catatan lapangan isteri saya. “ Nagpur, 1952, hlm. 158. » Sebuah meja segiempat atau bundar yang tampaknya dimiliki oleh hampir semua orang Jawa, di sekitar mana tuanrumah dan tamu selalu duduk, menyesap teh hangat dan memakan kue lunak. Adalah juga merupakan bagian dari pola andap- asor jika tuanrumah menyatakan bahwa makanan yang disajikan sangat tidak memadai: semakin ia bersikeras menyatakan ini, semakin baik. ” Walaupun menurut ukuran keseluruhan kosakata Jawa, jumlah kata yang menunjukkan perubahan formal dalam arti konotasi status persentasenya relatif sedikit, tetapi karena kata-kata itu merupakan kata-kata yang paling sering muncul dalam percakapan aktual, maka dalam hitungan kata dari ungkapan biasa, persentase bentuk ekspresi-status tinggi sekali. Pada umumnya bisa dikatakan bahwa tidak ada aturan pasti yang bisa dipakai sebagai alat untuk menentukan kata mana yang berubah dalam situasi status yang berbeda dan mana yang tidak, kecuali satu aturan yang samar bahwa semakin lazim sebuah kata dan semakin jelas ia menunjukkan sesuatu yang cukup dekat hubungannya dengan manusia, semakin mungkin ia memiliki bentuk semacam itu. Dalam ucapan yang sedikit lebih panjang dari yang minimal, kemungkinan untuk munculnya paling sedikit satu tanda gaya krama/madya/ngoko hampir-hampir merupakan satu keseragaman. Saya memperoleh saran untuk memperlakukan “gaya” dan “kata tinggi" secara terpisah dari Rufus Hendon yang juga menganjurkan agar ketiga pasang konjugasi yang berantai itu dimasukka: dalam satu unit baru, yang disebut satu “seyleme”, yang kemudian muncul sekali dalam (hampir) tiap kalimat dan agar kata-kata tinggi, yang ada secara sporadis,