Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 387
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 387 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Tabel terjemah Inggris belum dibuat.
Bahasa Indonesia Translation

disebut dengan “sebutan kehormatan”. Bagian formal dari diskusi di atas sangat bergantung pada analisisnya. Karena distribusi kedua jenis sebutan kehormatan bersifat komplementer, yang tinggi hanya terdapat pada styleme tinggi, yang rendah pada yang rendah, maka perbedaan antara keduanya bersifat berlebihan dan bisa dihilangkan dalam sebuah analisis yang lebih rapi. Karena sebutan kehormatan rendah tiada lain hanyalah “penanda” styleme tinggi yang terdapat dalam konteks styleme rendah, maka kombinasi styleme tinggi dengan sebutan kehormatan rendah tentu saja tidak mungkin karena sebutan kehormatan tidak bisa dibedakan dari penanda styleme. Satu komplikasinya adalah bahwa tidak seluruhnya benar kalau status dan/atau keakraban antara pembicara dan pendengar merupakan satu-satunya penentu bentuk status karena kadang-kadang status orang ketiga yang dirujuk, khususnya kalau ia tinggi benar,akan menentukan bentuk yang dipakai. Jadi, dalam berbicara kepada orang yang rendah statusnya, orang masih akan menggunakan bentuk “rumah" yang tinggi, krama, untuk menyebut rumah yang dihuni oleh wedana. Untuk pembahasan tentang pemilihan tingkat bahasa dalam konteks keluarga dan kekerabatan, lihat buku H. Geertz, The Javanese Family. “Kesalahan” ini didasarkan atas analogi yang keliru mengenai jenis-jenis perubahan formal yang umum dari bahasa rendah ke bahasa tinggi. Walaupun tidak ada aturan tertentu untuk hal itu, beberapa perubahan seperti itu terjadi berulang (bahasa rendah diberikan terlebih dulu): (1) pergeseran bunyi vokal terakhir dari a ke i: Jawa/Jawi, “orang Jawa": (2) pergeseran dari i ke os: ganti/gantos, “ganti": (3) semacam bentuk “pig-latin" dalam bahasa tinggi, yang di antara proses lain, melibatkan berbagai bentuk persengauan di tengah atau di belakang: kena/kenging, “kena", “boleh": karep/kajeng, “ingin”, “mau”: kari/kantun, “ketinggalan”: (4) perubahan bentuk sepenuhnya: omah/griya, “rumah".


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 387 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi