Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
umumnya dilakukan oleh para priyayi. Pusat dari kompleks itu adalah wayang, pertunjukan Jawa yang masyhur ke seluruh dunia. Bonekanya, yang merupakan kulit pipih yang diukir, kemudian dicat dengan warna emas, biru dan hitam, memang dibuat untuk menimbulkan bayangan pada layar putih. Dalang, yang memainkan boneka itu, duduk di tikar di depan layar itu. Sebuah orkes gamelan berada di belakangnya dan sebuah lampu minyak bergantung di atas kepalanya (secara tradisional: sekarang, setidaknya di kota-kota, digunakan lampu listrik). Boneka itu dijepit dengan batang dari cangkang penyu, dari kepala sampai ke bawah kakinya, dimana dalang menggenggamnya sebagai semacam pegangan. Lengan-lengannya yang bisa digerakkan, yang merupakan satu-satunya bagian yang bisa digerakkan, juga diberi tongkat pendek, yang dipegang oleh si dalang dengan satu tangan dan digerakkan dengan jarinya. Dia memegang wayang itu dengan sebelah tangan di atas kepalanya dan memainkannya di antara lampu serta layar putih. Kalau wayang itu merupakan tokoh mulia dan kebanyakan memang demikian, ia harus berhati-hati sekali menjaga jangan sampai wayang itu diangkat lebih tendah dari kepalanya. Dari sebelah si dalang, orang bisa menyaksikan boneka itu sendiri dengan bayangannya berdiri tegak secara dominan di layar putih sebelahnya. Dari belakang layar, orang hanya melihat bayangannya saja. Adasebatang pohon pisang di sepanjang dasar layar, di depan dalang, tempat menyimpan boneka-boneka yang tidak langsung digunakan dalam pertunjukan. Sesuai dengan pertunjukan, yang biasanya berlangsung semalam suntuk, maka dalang mengambil dan mengganti tokoh-tokoh dari batang pohon itu sesuai dengan kebutuhannya serta memainkan boneka yang langsung berperan. (Kebanyakan mereka terlibat dalam percakapan yang sangat formal, dalam perang—dimana dia memu- kulkan yang satu pada yang lain—atau dalam hal para pelawak, terlibat dalam semacam dagelan). Ia menirukan semua suara yang dibutuhkan, menyanyi bila nyanyian diperlukan, menendang lembaran besi dengan kakinya untuk menjaga irama dan melambangkan suara-suara perang. Dan karena ia hanya memiliki garis besar cerita yang diturunkan kepadanya melalui tradisi, maka ia menambahkan hampir semua detail dalam cerita itu sambil jalan, khususnya dalam adegan-adegan lelucon, yang seringkali berisi unsur-unsur kritik sosial kontemporer. Dalang melakukan ini semalam suntuk, duduk hingga fajar dengan kedua kaki bersila layaknya sikap duduk formal orang Jawa, melakukan permainan