Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Mereka mungkin mengembangkannya, tentu saja lebih karena alasan prestise daripada apresiasi atau karena kedua-duanya. Bagaimanapun juga, semua pertunjukan wayang yang saya saksikan selama saya di Mojokuto disponsori oleh kaum priyayi dan semua dalang-nya diambil dari kota-kota besar yang lain,? sekalipun saya tidak meragukan bahwa orang-orang abangan yang kaya masih menyelenggarakan wayang dari waktu ke waktu. Honor rata-rata untuk dalang yang ahli adalah sekitar Rp 500,00. Bagi kaum abangan, wayang merupakan drama populer tentang tokoh legendaris, sebuah drama yang daya tariknya mungkin begitu berbeda dari drama populer lain yang kurang megah, yang akan kita bicarakan di bawah. Namun, wayang juga merupakan bagian dari kompleks slametan. Pada umumnya, wayang bisa dipertunjukkan pada hari apa pun yang diperkenankan untuk mengadakan slametan dan untuk alasan yang sama dengan slametan. Perkawinan, khitanan dan kelahiran adalah peristiwa-peristiwa yang cocok buat menyelenggarakan wayang, demikian juga Maulud Nabi. Untuk perkawinan dan kelahiran (tetapi tidak untuk khitanan, kebiasaan yang bukan Hindu) ada lakon khusus yang cocok, seperti “Perkawinan Angkawijaya” (atau perkawinan Bima, Arjuna, karena selalu ada lakon perkawinan untuk hampir setiap tokoh utama) yang dibahas di atas, untuk perkawinan, atau “Lahirnya Gatotkaca” (barangkali merupakan lakon yang paling populer dari semuanya) untuk kelahiran. Saya telah menyebutkan pentingnya menyelenggarakan wayang khusus untuk melindungi anak tunggal dari pemangsaan oleh Batara Kala. Orang bisa juga menyelenggarakan wayang untuk menyembuhkan suatu penyakit. Sebaliknya, beberapa lakon khusus dianggap akan membawa kesialan dan karenanya, hampir tak pernah dimainkan. Sebagai tambahan, pertunjukan wayang itu sendiri adalah perleng- kapan dalam konteks slametan. Ia (seorang dalang) mengatakan bahwa sebelum seseorang mempertunjukkan wayang, ia harus terlebih dahulu membakar kemenyan untuk memberi makan dan berdo'a kepada para makhluk halus—sebagaimana halnya dalam slametan. Kemudian ada sebuah sajen yang dipersiapkan oleh orang yang menyelenggarakan wayang, dimana dalam sajen itu tercakup sebuah pisang, sebuah kelapa, kemenyan dan uang 18,5 sen. Juga disediakan makanan—ayam rebus, kelapa dan sebagainya yang dibawa pulang oleh si dalang sesudah itu dan dimakan