Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
sendiri. Sajen diletakkan di dekat dalang, dimana setiap orang bisa melihatnya dan tetap di situ sepanjang pertunjukan berlangsung. Sebagaimana dalam slametan, setiap orang yang menonton wayang dianggap selamat dari semua bahaya, setidaknya selama pertunjukan berlangsung dan barangkali lebih lama lagi. Dengan demikian, penye- lenggaraan dan menonton wayang untuk sebagian merupakan sejenis titual defensif yang sama jenisnya dengan slametan dan orang sering melihat pertunjukan wayang yang sedang berlangsung tanpa benar- benar menaruh perhatian terhadapnya karena yang penting bukanlah isi ceritanya, melainkan keampuhan ritual pertunjukan itu. Terkadang orang menganggap wayang itu sendiri kerasukan makhluk halus selama pertunjukan: dan dalang-nya sering dikatakan kerasukan juga, yang menyebabkan mereka memiliki kekuatan konsentrasi serta daya tahan yang demikian besar. Sebagaimana orang mengenal dukun yang kerasukan (dukun tiban) dan dukun yang keahliannya diperoleh dari belajar, demikian juga orang mengenal dalang yang kerasukan (dalang tiban) di samping jenis yang lebih umum, yang memperoleh keahliannya dengan belajar dari dalang lain. Calon pengantin pria datang lagi dan mengatakan bahwa beberapa waktu yang lalu, pernah ada seorang dalang tiban di dekat Kediri. Jelas bahwa sebuah makhluk halus telah mendatangi serta merasukinya: karena walaupun ia tak pernah men-dalang sepanjang hidupnya, ia lalu bisa melakukannya tanpa belajar dan melakukannya selama 35 hari tanpa henti. la kemudian kehilangan makhluk halus itu dan tak dapat melakukan hal itu lagi. Untuk kalangan priyayi, beberapa aspek ritual wayang ini mungkin masih penting (kemenyan juga dibakar pada pertunjukan wayang di keraton): walaupun, karena slametan sudah diubahnya menjadi sebuah pesta yang nyaris sekuler, di tangannya, wayang menjadi bentuk seni yang cukup tersekularisasi. Namun, sekularisasi atas aspek ritual ini sebenarnya cenderung membebaskan spekulasi tentang “makna” wayang, untuk mendorong—berhubung makna ritualnya yang formal sudah lenyap—penafsiran atas isinya. Dan ini cenderung membawa wayang berintegrasi secara lebih akrab dengan agama priyayi ketimbang dengan agama abangan. Seni, seperti halnya etiket, dilihat sebagai sesuatu yang memberi bentuk material kepada isi yang