Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Apakah saya mesti makan bersama mereka? Tidak, saya sudah makan, saya akan kekenyangan nanti. Akan tetapi, makanan itu tampaknya lezat benar”... Contoh kedua mengenai makanan itu, yang sangat Jawa, me- nunjukkan bahwa perjuangan itu bukanlah antara baik dan buruk sebagaimana kesan yang timbul dari contoh pertama, tetapi antara lawan lama, perasaan kasar dan alus, antara nafsu dasar hewani dan pengawasan diri yang begitu saja, tanpa usaha keras, yang setenang Arjuna dalam membunuh saudara seibunya di perang Bratayuda. Dalam wayang, berbagai godaan, keinginan dan sebangsanya diwakili oleh para Kurawa, yang jumlahnya 100, sedangkan kesanggupan mengawasi diri sendiri diwakili oleh saudara sepupu mereka, Pandawalima dan Kresna, penjelmaan Wisnu. Kisah-kisah itu tampaknya menyangkut perjuangan atas sebuah wilayah karena unsur abstrak dalam rasa dapat diwakili oleh elemen-elemen luar yang konkret yang akan menarik hadirin dan tampak nyata bagi mereka, tetapi masih menyampaikan pesan dalamnya. Misalnya, wayang penuh dengan peperangan yang dianggap mencerminkan peperangan di dalam, yang berlangsung terus- menerus dalam batin setiap orang antara dorongan dasarnya dengan yang sudah diperhalus. Dalam setiap lakon, Arjuna serta Pandawa lainnya selalu saja memerangi raksasa dan anehnya, mereka harus terus-menerus membunuh para raksasa. Mereka sudah membunuhnya pada suatu ketika dan kemudian, beberapa jam sesudahnya, mereka harus membunuhnya lagi. Mengapa demikian? Karena raksasa itu mencerminkan nafsu. Mereka mencerminkan keinginan dalam seseorang -senang dan bukan belajar, untuk bermain-main untuk mondar-mandir kian-kemari dan bukan berketetapan menjalani sesuatui karena nafsu serta syahwat ini terus saja muncul, orang harus terus memeranginya dengan dorongan yang baik, yang dicerminkan oleh para Pandawa. (Pandawa biasanya juga dianggap mencerminkan pancaindra, pengaturan kelimanya secara benar). Akan tetapi, orang tak bisa mengalahkan nafsu secara tuntas. Mereka selalu datang kembali dan orang harus selalu terus membunuhnya. Doktrin metafisis Mahabharata di sini dinyatakan dalam kosakata psikologis dan bukan sosio-politis, tetapi pada pokoknya ia tidak berubah. Sebagaimana keraton raja menjadi lambang hati yang dalam dan tingginya kedudukan politik menjadi tanda penyempurnaan ke dalam, demikianlah di sini, konflik dalam Bhagavad Gita antara