Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Joged: Tari Jawa Gamelan menghubungkan teater dengan tembang dan tarian. Tarian Jawa disebut jog2d yang berbeda dengan dangsah, tarian Barat, yang bagi kebanyakan orang Jawa terasa agak cabul. Terbukti tarian tesmi Jawa lebih terkait erat dengan kepribadian mereka sendiri, citra tubuh mereka, daripada bentuk-bentuk kesenian mereka lainnya. Bahkan orang yang sangat berpendidikan Barat dengan berbagai cara masih menolak tarian Barat dengan bergidik, memakai ungkapan seperti “Kalau kita ber-joged, kita bisa hilang dalam diri sendiri, tetapi kalau kita menari gaya Barat, kita masih menyadari apa yang kita lakukan” atau “Dangsah mungkin baik bagi orang Barat yang sudah terbiasa dengannya, tetapi bagi orang Timur (dari kedua jenis kelamin) menari begitu dekat dengan seorang pasangan akan menyebabkan mereka tidak bisa mengendalikan diri, sehingga niscaya akan menuju kepada hubungan seksual” atau “Saya tidak berkeberatan melihat orang Eropa ber-dangsah bersama, tetapi kalau saya melihat seorang Jawa melakukannya, saya merasa mau muntah”. Sebuah keributan mahasiswa terjadi di Universitas Gajah Mada ketika saya berada di sana, karena beberapa mahasiswa berani mengadakan pesta dansa: dan meninggalnya seseorang dalam sebuah kerusuhan di Jakarta, sebagian, dianggap karena situasi yang sama. Ada dua jenis joged yang utama, tarian “putri" klasik, srimpi serta bedaya, yang ditarikan hanya oleh gadis-gadis muda dan tari yang lebih mutakhir (biasanya ditarikan oleh kedua jenis kelamin) yang menerangkan wayang dan karenanya dikenal sebagai wayang wong, wong berarti “orang”, “manusia”. Srimpi dan bedaya keduanya merupakan tarian kelompok, yang pertama terdiri atas empat penari, yang kedua terdiri atas sembilan penari. Sampai beberapa tahun sebelum perang, tarian ini terbatas untuk kalangan keraton saja: dan hanya pada abad ini, orang-orang Eropa diperkenankan menyaksikannya, itu pun dalam lingkungan keraton saja. Dahulu kala, srimpi merupakan nama jabatan dan juga tarian, tiap keraton (Yogyakarta serta Surakarta) hanya mempunyai empat orang saja, yang dipilih dari keturunan raja yang belum dewasa dan akan digantikan nanti setelah mereka dewasa. Pada pihak lain, bedaya adalah gadis-gadis dewasa yang belum menikah, yang kadang-kadang diambil dari kalangan orang biasa di luar keraton dan seringkali merupakan selir sultan. Gadis-gadis dalam srimpi dan