Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
gerak-gerik seorang kuli di belakang truk yang memberi isyarat supaya kendaraan di belakangnya lewat, walaupun ia pasti tidak tahu apa-apa tentang tari: atau bisa dilihat ketika seorang gadis Mojokuto hendak duduk di lantai dengan gerakan yang demikian perlahan seperti yang dilakukan dalam tarian srimpi. Gerak-gerik itu seperti berdiri sendiri, terlepas dari bagian badan lainnya, seakan-akan mempunyai dunianya sendiri, untuk kemudian tiba-tiba membelok dan bergabung dalam kesatuan dengan anggota tubuh lainnya, badan dan kepala. Banyak dari gerakan tarian yang ruwet—jentikan jari yang melemparkan selendang ke arah tertentu, menendang ujung kain sarung ke belakang dengan kaki, tekukan tangan ke belakang ke arah pergelangan, atau gerak kepala secara horizontal di sepanjang bidang kedua bahu—dianggap sulit dilakukan dengan keanggunan yang diperlukan, sehingga hanya mereka yang mempelajarinya sejak kecil saja yang bisa melakukannya dengan terampil: dan segera setelah penari itu menjadi perempuan dewasa, sekitar usia 20 atau 25 tahun, ia tidak akan menari lagi. Orang tidak pernah melihat penari yang berusia lebih dari pertengahan 20-an tahun menari tarian alus di Jawa: kebanyakan penari berusia antara 10 sampai 15 tahun. Baik bedaya maupun srimpi memiliki kisahnya sendiri. Beberapa gerakannya dianggap sebagai peniruan tindakan alam—seperti “ombak lautan”, semacam gerakan bergelombang—atau beberapa perilaku manusia, seperti menyisir rambut, berpakaian, berkelahi, menyembah raja. (Srimpi Yogyakarta meliputi penggunaan keris dan busur serta panah, karena ia mengisahkan perkelahian antara dua orang putri yang memperebutkan seorang laki-laki). Gerakan alamiah ini sangat bergaya tinggi, sehingga tarian tersebut samasekali tidak realistis dan sangat abstrak. Gadis itu bergerak maju mundur dalam ruang segi empat, selalu menatap kalau tidak ke utara, ke selatan, ke timur atau ke barat, tidak pernah diagonal. Irama tariannya perlahan, dikemudikan dan terkendali: gerakannya mempunyai ketepatan seperti dalam upacara. Sikap yang benar merupakan suatu keharusan, kedua bahu berada dalam keadaan sedemikian rupa sehingga tulang-tulangnya tidak menonjol. Nafas harus enteng dan tak kentara. Mata harus tertuju pada titik tertentu, lurus ke depan dan agak ke bawah, hingga memberikan efek seperti kerasukan kepada tarian, sebuah efek yang dipertinggi oleh seringnya digunakan langkah “ombak laut" yang merupakan gerakan oleng yang halus sambil berdiri di tempat, sebuah gerakan yang tampaknya hipnotik baik bagi