Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
penari maupun penonton. Ekspresi yang diperlihatkan dan gerakan yang dikendalikan dengan hati-hati, memberi perasaan melihat ke dalam, pemusatan perhatian pada diri sendiri dan sebuah konsep tentang penyempurnaan keanggunan yang lengkap, yang hendak dicapai oleh tiap penari secara sendiri-sendiri: Pada suatu ketika, ia (anggota dewan pimpinan sebuah kelompok gamelan dan joggd Mojokuto) berbicara tentang jog&d dan mengatakan bahwa tujuannya adalah untuk nyerunggalaken batin, untuk menyatukan dan mengkonsentrasikan batin. la menggambarkan gerak lengan dalam tarian pria, dengan lengan tinggi dan bengkok di depan serta siku agak maju dan mengatakan bahwa mata harus mengikuti titik siku, pertama pada siku yang satu, kemudian ke siku yang lain dan bukan hanya melihat kesana ke mari. Wayang wong tidak begitu abstrak. Wayang wong baru muncul sekitar pertengahan abad ke-18 sebagai bagian dari kebangkitan seni klasik Jawa setelah pukulan yang diterimanya selama masuknya agama Islam. Sedikit banyak ia merupakan upaya “menarikan” lakon wayang kulit, atau lebih sering, bagian-bagian daripadanya. Kebanyakan lakon itu berasal dari seri Mahabharata (ada sekitar 100 bagian seperti itu, sejauh ini merupakan korpus yang terbesar dibandingkan dengan seri mana pun, salahsatu penyebab popularitasnya) dan tiap penari mengambil pembicaraan dan tarian dari tokoh yang dimainkannya—Arjuna, Bima, Semar. Bentuk pertunjukan wayangnya agak disederhanakan, tiap adegan biasanya terdiri atas jejer, dimana orang-orang penting berdiri berhadap- hadapan dan mengucapkan beberapa kata dengan nada yang sedikit keras serta angkuh: mlaku (secara harfiah berarti “berjalan”) dimana mereka menari mendekati dan menjauhi satu sama lain, seringkali seseorang datang membawa berita: serta kemudian prang, dimana beberapa tarian perang yang bersemangat, tetapi sudah diatur, berlangsung. Beberapa pemain, khususnya mereka yang memerankan raksasa, mengenakan topeng dan semuanya, diiringi gamelan seperti biasanya. Kecuali rombongan penari keliling profesional dan radio, yang mulai semakin sering, orang jarang berhubungan dengan pertunjukan wayang wong yang lengkap. Kalaupun ada, orang menyaksikannya lebih sebagai pertunjukan sandiwara, semacam opera, daripada sebagai pertunjukan tari. Di pusat-pusat keraton, adegan-adegan atau tari-tarian tertentu, yang hanya sedikit berbeda dalam bentuk dasarnya dari adegan