Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
keadegan dan dari lakon ke lakon, diolah menjadi tari-tarian yang bisa berdiri sendiri yang disebut petilan atau “petikan”, petikan seperti itu sering mencakup pelawak-pelawak pantomim yang kocak—Semar serta anak-anaknya—dan meniru gerak-gerik tuannya yang sangat alus. Di Mojokuto, orang hanya melihat “petikan” seperti itu, biasanya bahkan lebih disederhanakan lagi (karena hampir tidak ada pelawak samasekali), yang dimainkan oleh kalangan amatir dan menyerahkan wayang wong yang lebih seperti drama kepada rombongan profesional. Dengan demikian, wayang wong di Mojokuto merujuk kepada dua hal: pertunjukan lakon wayang yang seperti opera oleh rombongan profesional yang bentuknya akan saya uraikan nanti dalam bagian berikut dan serangkaian tarian abstrak yang umumnya lengkap serta diciptakan di sekitar tema serta tokoh wayang. Pada kenyataannya, satu-satunya perbedaan antara yang terakhir ini dengan srimpi—yang memang sering dicampur dengannya selama pertunjukan, kurang lebih secara acak—adalah ditambahkannya penari pria dan jenis tari-tarian pria: keduanya bukanlah pertunjukan drama yang berkembang. Orang bisa mendengarkan pertunjukan lengkap lewat radio: dan kurang lebih beberapa bulan sekali, serombongan penari dan pemain profesional yang suka berkeliling untuk mempertunjukkan wayang wong akan datang ke kota dan bermain di sana selama beberapa hari. Dalam kedua hal terakhir, wayang-nya sudah lebih disesuaikan serta bergeser dari bentuknya yang semula dan menyerupai semacam opera Barat—campuran drama semirealistis dengan musik dan tari, walaupun tidak banyak nyanyian di dalamnya. Pembagian resmi menjadi tiga kelompok wayang wong, yang pada dasarnya masih lebih merupakan tari daripada sandiwara, mengubahnya menjadi bentuk yang lebih longgar dan bersifat drama, mendekati kebebasan serta realisme drama rakyat seperti ludrug, ketoprak dan sebagainya, yang akan kita uraikan nanti. Jadi, pada “ujung bawahnya"—dan beberapa wayang wong profesional yang datang ke Mojokuto ditinjau dari sudut estetika yang sangat menyedihkan—adalah “sandiwara rakyat" yang sudah populer, dimana nama, garis besar alur, pemain dan gamelan wayang di dalamnya memang ada, tetapi rasa-nya hanya ada sedikit. Meski demikian, pada “ujung atasnya”, para penari fragmen wayang wong yang dipertunjukkan di Mojokuto mewakili teori kesenian alus yang sama dengan yang mendasari srimpi, yang barangkali disimpulkan dengan baik sekali oleh seorang mahasiswa Yogyakarta, yang mengatakan: