Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
keliling. Pasar malam ini, yang sangat mirip dengan pasar malam Barat, dengan berbagai jenis permainan taruhan, ujian ketangkasan, berbagai pertunjukan tambahan dan sebagainya, meskipun barangkali tidak begitu meriah, datang ke kota itu (dengan sponsor Cina) sekali atau dua kali setahun. Pada umumnya, karena kualitas pertunjukannya sangat rendah, kecuali rombongan ludruk yang sangat terampil, pertunjukan itu kebanyakan hanya menarik para petani dan orang-orang kota kelas rendah. Pertunjukannya biasanya didominasi oleh para pelawak, sebagaimana tampak dari sinopsis wayang wong yang saya tonton berikut ini, karena di sini para satria alus terdorong ke belakang oleh kelakar dan dagelan Semar serta kelompoknya. “Semar, Petruk, Gareng dan Kesaktian” ...Layar naik sesudah gamelan (semua sandiwara seperti ini selalu diiringi gamelan) bermain sebentar. Lima penari srimpi menari dan menyanyi pada saat bersamaan—kelompok paling lusuh yang pernah sayalihat, salah seorang dari mereka cebol. Mereka kasar, mekanik dan tidak terlatih. Gaya Solo. Setelah itu, cerita dimulai. Raja Madura mengumumkan kepada sekelompok orang bahwa putrinya diculik oleh Duratmuka, seorang raksasa dan bahwa siapapun yang dapat merebutnya dari raksasa itu, boleh mengawininya. Arjuna menerima tantangan itu dan dia bersama 'Semar berangkat mencari putri itu. Mereka bertemu dengan dua putri Raja Madura lainnya, salah seorang diantaranya jatuh cinta kepada Arjuna dan mencoba membujuknya agar tidak mengikuti sayembara itu serta tinggal saja bersamanya. Ketika ia menolak, putri itu menyumpahinya bahwa kalau nanti ia lapar, ia tak akan memperoleh makanani: kalau ia kehausan, ia tak akan mendapatkan air. Adegan berikutnya adalah peperangan dengan seorang raksasa yang menguasai hutan tempat putri yang hilang itu disembunyikan. Raksasa itutampak mengerikan, tetapi agak bodoh. Para pelawaklah yang mula- mula mendekatinya, seorang demi seorang, menyanyi untuknya dan raksasa itu pun ikut menyanyi dan menari bersama mereka. Petruk mengajaknya berbincang-bincang tentang negeri mana saja yang pernah dikunjunginya, bahasa apa saja yang dikuasainya, dengan ba- nyak permainan kata-kata. Sementara ia berbicara, Gareng merangkak dan mencuri kerisnya, kemudian pergi ke samping panggung untuk menjualnya. Tidak lama kemudian, ia datang lagi sambil mengatakan bahwa perempuan di pasar tak mau membayarnya dengan harga yang pantas. Petruk membisikinya untuk mencoba lagi, sementara masih