Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
berbincang-bincang dengan raksasa itu. Ini terjadi beberapa kali, hingga akhirnya Gareng yang sangat bodoh itu, datang lagi sembari mengatakan 'bahwa semua perempuan di pasar sudah pulang. Pada saat itu, si raksasa menyadari bahwa kerisnya hilang dan mulai menggeledah para pelawak itu. Sementara mereka membungkuk, ia menyingkap baju mereka untuk mencari di baliknya. Dengan melucu, mereka saling mengoperkan keris, hingga akhirnya mereka menjatuhkannya ke tanah dan raksasa itu menemukannya. Semar dan raksasa itu juga berlaku sebagai pelawak: 'Semar yang dikejar-kejar raksasa itu mengangkat pantatnya di hadapan raksasa itu untuk meledeknya. Akhirnya, Semar mencoba tipu daya kuno dengan mengatakan kepada raksasa itu untuk "melihat ke sana, ke lantai" dan memukul kepala raksasa itu. Akhirnya, Arjuna datang dan membunuh raksasa itu, namun kemudian pingsan karena kelaparan dan kehausan, hasil dari kutukan sebelumnya. Semar memiliki gagasan tentang bagaimana mencari makan. Karena tidak punya uang, ia hendak mengadakan pertunjukan sulap dan meminta bayaran dalam bentuk beras. Ia pergi ke tempat seorang gadis di hutan itu dan mempertunjukkan permainannya. Ia mengubah batu menjadi kura-kura, yang oleh P€truk dilempar dengan kesal ke arah gadis itu, yang seketika itu juga pingsan: ia menyulap daun kelapa menjadi belut, yangjuga membuat Petruk ketakutan dan melemparkannya lagi ke arah gadis itu. Mereka mengambil nasi dan melarikan diri, ketakutan oleh sulapnya sendiri. Semar membawa nasi itu kepada Arjuna dan mereka berangkat lagi mencari gadis itu. Mereka kembali untuk menjaga kedua putri yang lain karena mereka khawatir akan ada penculikan lagi. Kedua pelawak itu tidur di tikar, sementara Kakrasana, satria lain yang menemani Arjuna, duduk berjaga- jaga. Pada tengah malam, anak Duratmuka lewat. Kakrasana tahu bahwa ia adalah penculik gadis itu dan mencoba menangkapnya, tetapi tidak berhasil. la kemudian membangunkan Arjuna dan pencarian yang lama pun menyusul dengan banyak sekali lawakan. Akhirnya, penculik itu lepas. Arjuna dan Kakrasana memutuskan untuk membuat diri tak terlihat dan pergi ke istana musuh. Petruk yang juga membuat diri tak terlihat, ikut bersama mereka pergi ke Duratmuka, lalu melumuri muka Duratmuka serta kedua penjaganya dengan cat putih—lelucon yang hebat: mereka pun saling mentertawakan muka mereka yang dicat putih. Lalu, terjadilah perang besar yang berakhir dengan kekalahan para raksasa dan putri berhasil diboyong pulang. Tamat. Dalam pertunjukan ini, jelas para pelawak mendominasi keseluruhan sandiwara dan kisah itu, dalam bentuknya yang demikian, hanya merupakan sebuah kerangka untuk mempertunjukkan kelakar dan bukan menonjolkan kisahnya sendiri. Bahkan Arjuna yang alus