Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 432
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 432 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Arabic Original Text
Belum ada teks Arab untuk halaman ini.
Bahasa Indonesia Translation

itu, yang tak pernah kehilangan kepekaan terhadap bagiannya barang sedetik pun, di sini dilibatkan dalam pencarian yang lucu. Sebagaimana dikatakan oleh seorang informan, lakon merupakan bagian yang penting dalam wayang, tetapi dalam sandiwara dagelan, kisahnya sendiri tidak penting: kelakarnyalah yang penting. Ketoprak sangat mirip dengan itu, hanya saja di Mojokuto, ia menggunakan latarbelakang Hindu-Jawa (walaupun kisah-kisahnya bisa jadi berasal dari masa kerajaan Mataram sesudah Islam). Satu ketoprak yang pernah saya saksikan mengisahkan pencurian tombak seorang bangsawan pemberontak yang menjadi sumber kesaktiannya, ini dilakukan oleh putri sultan yang diam-diam menikahinya, menyanjungnya dan menyarankan agar tombak itu ditinggal kalau ia pergi. (“Itu seperti yang dilakukan Delilah ketika memotong rambut Sampson”, kata seorang informan saya yang baru menonton Sampson and Delilah di bioskop). Walaupun cerita ini lebih penting daripada cerita wayang wong yang baru saja diuraikan, pertunjukannya lagi-lagi didominasi oleh pelawak. Dalam ludruk, bentuk kesenian yang paling sering dipertunjukkan di Mojokuto, cerita dan dagelan lebih saling mengimbangi dan maksud untuk menghibur serta mendapatkan keuntungan digabungkan dengan maksud untuk mendidik. Ludruk, apa pun bentuknya sebelum perang, sekarang mendekati bentuk sandiwara modern Barat. Ia dimainkan dalam bahasa Jawa rendahan, ngoko, kecuali apabila krama dan bahasa Indonesia diperlukan untuk realismenya (misalnya dalam pembicaraan seorang pejabat tinggi atau dalam pesta yang canggih di kota besar) dan memiliki alur yang didasarkan pada masa kini atau masa lampau yang baru saja lewat, dengan tokoh-tokoh dari “kehidupan sehari-hari". Peran perempuan dimainkan oleh lelaki yang berpakaian perempuan dan memainkan perannya demikian baik sehingga mengelabui banyak penonton. (Setiap informan yang nonton ludruk bersama saya menunjukkan kurang lebih 12 kali kepada saya bahwa “gadis” itu sebenarnya adalah anak lelaki, jelas ia tak percaya bahwa saya yakin dengan keterangannya itu). Para peniru perempuan ini (yang dari pengamatan sepintas lalu di luar panggung, seringkali kalau bukan biasanya, merupakan orang-orang homoseksual) juga menyanyikan lagu-lagu yang “mendidik” di sela-sela permainan. Lagu-lagunya berbentuk modern, semacam kroncong yang akan kita bahas di bawah, dengan pengecualian bahwa ia lebih bergaya Jawa


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 432 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi