Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
dengan menggoyangkannya) dan seorang lagi membawa gendang besar. 'Sambil berjalan, mereka menabuh gendang itu untuk menarik perhatian. Tiga orang lainnya, seorang dengan pakaian pelawak dari karung goni dan mengenakan topeng, yang lainnya mengendarai kuda kepang yang dicat hitam serta putih, berjingkrak-jingkrak di sepanjang jalan di depan orang-orang, terus-menerus mengadakan gerakan menyilang di antara mereka seraya tersenyum dibuat-buat, mengumpulkan uang di sana-sini sambil lewat. Memanggil mereka ongkosnya Rp 2,50.... Tarian-kuda itu dimulai dengan pukulan gendang serta permainan musik yang amat sederhana dan tak begitu mendebarkan hati. Dua di antara pemain, yang mengendarai kuda, mulai menari berkeliling seperti kuda, keluar masuk beriringan. Sementara itu, orang ketiga menyediakan semangkuk air dan untaian padi—yang dianggap makanan kuda yang sebenarnya—yang kami sumbangkan. Sejenak kemudian, kuda itu mulai lebih lincah dan menari berjingkrak-jingkrak. Kemudian, seorang di antaranya berhenti dan mengambil cambuk, lalu memimpin yang pertama dengan cambuk, mula-mula tanpa memukulkannya, tetapi sekadar mengenainya dari waktu ke waktu. Sekarang, yang pertama berada dalam keadaan kerasukan dan mulai meniru kuda dengan persis. Dalam keadaan ini, ia menghirup air sebagai seekor kuda dan jelas dengan rasa senang memakan untaian padi itu dan terus begitu untuk beberapa saat—mencium makanan, berjingkrak-jingkrak menjauhinya, memakannya, mengecapnya dan seterusnya. Menjelang akhir pertunjukan, ia melakukan tarian, berjingkrak-jingkrak lagi dan berakhir dengan kuda lumpingnya diangkat di atas kepalanya. Ini adalah klimaksnya. Ia disadarkan dari keadaan kerasukan oleh seorang pembantu yang berjalan di belakangnya, mendekapnya sambil menggun- cangkan tangannya agar melepaskan kuda lumping itu dan mencambuk kedua kakinya agar ia berdiri tegak, karena orang yang dalam keadaan kerasukan itu agak bersandar kepadanya. Kemudian kuda lumping itu diambil dan diletakkan memanjang di depan orang itu, secara simbolik menutupinya, lalu pembantu itu mencambuknya sekali dengan keras. Ketika orang yang kesurupan itu akhirnya disentuh dengan bola karet hitam di dadanya, ia sadar kembali. Ia tampak bingung. Dalam keadaan pusing, ia duduk dan perlahan-lahan sadar diri, sementara penolongnya menunggu di sekelilingnya untuk menjaga agar ia tidak berkeliaran kian ke mari atau mengamuk Keadaan kerasukan itu jelas cukup benar, walaupun intensitasnya berbeda-beda, karena beberapa penari dicambuk lebih keras daripada yang lain, makan pecahan kaca (seorang yang saya lihat makan bola lampu) dan cabe merah yang pedas serta bermain lebih lama dan lebih bersemangat daripada yang lain: beberapa orang di antara