Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
mereka hampir tidak kesurupan samasekali dan tidak begitu menarik. Sebelum pertunjukan, para penari biasanya membakar kemenyan untuk memanggil makhluk halus yang dianggap akan memasuki penari itu dan pemilik rumah sering menyiapkan sajen untuk melindungi dirinya dari makhluk halus yang dipanggil itu. Penonton walaupun kadang-kadang agak khawatir terhadap penari yang kerasukan ini, tidak takut kepada mereka. Mereka berkurumun di sekelilingnya, anak-anak dan orang tua, menonton: dan saya tak pernah mendengar cerita tentang mereka yang mengamuk serta melukai orang dalam keadaan kerasukan itu. Jaranan bukan satu-satunya tarian kerasukan semacam ini, hanya dia yang paling lazim. Sebuah tari yang disebut gendruwon (dari kata gendruwo, “makhluk halus”) sering juga terlihat dan rombongan yang disebut di atas juga mempertunjukkan tari gendruwo untuk kami, dengan bayaran Rp 2,50 lagi. Hal itu berlangsung sebagai berikut: Penari tunggal itu mengenakan pakaian karung serta topeng setan dari kayu. Gendang mulai dipukul dan ia pun mulai menari, terutama menggerakkan kepala serta tangannya, tangan mengikuti beberapa gerak srimpi atau wayang wong dan kepala mengikuti gerak “anggukan horizontal”. Ia juga mengalami kerasukan. Saya tidak tahu bagaimana penolongnya mengetahui kapan mulai terjadinya, tetapi sesudah terjadi, mereka membuka topengnya dan memberinya sepiring nasi dengan beberapa biji cabe merah serta sepotong tempe. Tarian selebihnya adalah sebuah komedi yang dimainkan di sekitar ia memakan hidangan itu. 1a menerimanya, memeriksanya dan melahapnya. Ia melucu tentang pedasnya cabe itu, tentang memasukkan terlalu banyak cabe secara sekaligus ke dalam mulutnya—bersendawa, kentut dan seterusnya. (Ia menjejalkan begitu saja nasi ke dalam mulutnya sampai ia tak bisa menutupnya dan harus terus menjejalkan nasi dengan tangannya sambil terus mengunyah dan tercekik-cekik) Penonton terkekeh- kekeh karenanya. Sesudah makan, ia menuangkan air ke dalam piring, meminumnya, lalu memasukkan air sampai mulutnya penuh dan kemudian menyemburkannya dengan deras ke arah penonton. Ada adegan rutin dimana pembantunya memberinya makanan dan kemudian menariknya lagi dengan gaya meledek, yang membuat si penari ma- trah. Akhir keadaan kesurupan itu tiba ketika sesudah selesai makan, ia menari sebentar dan pembantunya membawa topengnya kembali. Sementara penolong mendekatinya dari belakang, penari meraih ke belakang serta menangkap penolongnya, pada kemaluannya saya kira, menggenggamnya dan tak mau melepaskannya. Mereka membuat adegan kocak dengan ini. Pembebasan dari keadaan kerasukannya