Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Mengingat sifat orang Jawa pada umumnya, yang luarbiasa tenangnya, tayuban tampaknya bukan merupakan peristiwa yang biasa.? Meskipun pada suatu ketika, ia pernah populer di kalangan priyayi, tayuban makin lama makin menjadi milik abangan yang sudah sangat terpengaruh kota—sopir, pengrajin kecil dan lain-lain yang melihat dalam tayuban itu sebuah kombinasi dari kemaksiatan Timur dan Barat yang menarik—dan pasti menarik juga bagi petani abangan yang kaya didesa-desa, yang menganggapnya sebagai pencerminan dari kenakalan kota yang menggairahkan. Di Mojokuto, ada beberapa kelompok orang yang suka bermalas-malasan dan membuat gaduh, yang membentuk semacam kelompok penyelenggara tayuban, saling mengundang secara bergiliran, kadang-kadang sampai pada titik dimana tarian dihilangkan samasekali dan hadirin hanya duduk berkeliling, minum-minum, sedangkan kledek menyanyi untuk mereka disertai dengan iringan gamelan, sebuah bentuk "kesenian" yang disebut klenengan. Akan tetapi, kalangan priyayi pun ternyata dari waktu ke waktu masih mengadakan tayuban. Camat mengadakan tayuban pada larut malam ketika menyelenggarakan pesta perkawinan anak gadisnya— dan memperoleh Rp 1.500,00 dalam proses itu. Desa sebelah juga mengadakan tayuban untuk perayaan bersih desa dimana hanya priyayi kota saja yang diundang, sedangkan untuk rakyat setempat disediakan pertunjukan wayang secara terpisah. Pada umumnya tayuban, yang terlalu mahal bagi kalangan abangan dan terlalu kasar bagi kebanyakan priyayi, makin menghilang. Suaminya (salah seorang yang aktif mengadakan dan mengunjungi tayuban) mengatakan bahwa tayuban agak jarang diadakan sekarang. Sebelum perang lebih sering, tetapi sejak masa perang, hal itu sudah merosot menjadi kegiatan mencari untung saja dan sekarang, orang tak lagi begitu menyukainya. Sedikit sekali yang pernah diadakan: lebih sedikit lagi tayuban yang menarik kerumunan orang. Ia mengatakan bahwa salahsatu sebab yang membuat orang enggan mendatanginya adalah karena uang harus diberikan di hadapan para tamu dan beberapa orang selalu berusaha memberi banyak agar tamu lainnya malu. Sebelum perang, setiap orang dalam tayuban memberikan uang yang sama jumlahnya, katakanlah 50 sen atau satu rupiah, sehingga tak ada yang mendapat malu. Orang pada umumnya lebih menyukai wayang dan semacamnya, karena di sana orang bisa memberikan uang diam-diam dengan salam tempel dan tak seorang pun tahu berapa banyak yang mereka berikan.