Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Sandiwara kebanyakan menarik bagi kalangan intelektual yang berpendidikan Barat dan menghadapi persaingan ganda dari ludruk di satu pihak dan dari film, Barat maupun Timur, di pihak lain. Ia hampir tak pernah muncul di Mojokuto. Hanya satu sandiwara yang pernah dipertunjukkan selama saya tinggal di Mojokuto. Seorang pengarang muda Mojokuto menulis sebuah sandiwara yang didasarkan atas kisah saudara perempuannya yang diceraikan oleh suaminya yang bertitel, juga orang Mojokuto dan mendorong cabang organisasi veteran setempat untuk memproduksinya dengan harapan (kemudian ternyata gagal) memperoleh dana bagi organisasi mereka. Saudara perempuannya itu sendiri berperan sebagai perempuan yang diperlakukan tidak adil. Film Indonesia tidak hanya dibuat di Indonesia, tetapi juga di Kepulauan Filipina dan Malaya. Kebanyakan film itu berpolakan stambul dengan bentuknya yang berupa opera ringan, amat kaku dan biasanya didasarkan atas tema legenda atau cerita rakyat. Di antara film-film seperti itu yang agak populer pada masa tinggal saya di Mojokuto adalah yang didasarkan atas dongeng rakyat Bawang Merah, Bawang Putih, yang mengisahkan masalah ibu tiri dan sebuah film lain yang dibuat di Kepulauan Filipina, berdasarkan kisah Siegfried dan keduanya digarap dalam bentuk stambul. Namun ada juga beberapa gelintir film realistis tentang periode revolusi di Yogyakarta (yang merupakan ibukota Repub- lik pada masa perang). Sebuah film, yang ditulis oleh novelis Indonesia yang terkenal, memasukkan untuk pertama kalinya sebuah adegan berciuman ke dalam film Indonesia dan itu menimbulkan reaksi keras dari berbagai kelompok, hingga akhirnya adegan itu disensor. Sikap itu serupa dengan sikap yang telah saya uraikan tentang dansa. Sebagaimana seorang Jawa mengutarakannya, “Saya tidak berkeberatan menyaksikan adegan berciuman dan percintaan dalam sebuah film Amerika, tetapi dalam film Indonesia, itu membuat saya terkejut sekali”. (Adegan seperti itu sebenarnya kurang lebih merupakan lambang film-film Amerika—dan untuk sebagian juga merupakan lambang Amerika—dalam alam pikiran publik Mojokuto. Jalan di dalam kota yang penuh dengan pelacuran kadang-kadang dijuluki juga “Jalan Hollywood”). Ternyata jarak kejiwaan antara film Indonesia dengan seorang Jawa jauh lebih dekat daripada jarak antara film Amerika dengan dia dan karenanya, pemuasan khayalan dari desakan-desakan hati yang terlarang dapat diadakan dengan aman. Dalam banyak hal,