Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
film Amerika jauh lebih disukai daripada film Indonesia—biasanya dengan dalih bahwa tekniknya lebih unggul—dan merupakan salahsatu peristiwa terbesar sepanjang tahun ketika gedung bioskop setempat (milik Cina) mempertunjukkan film Cecil B. De Mille, Samson and Delilah, di kota. Banyak orang, khususnya lelaki dan perempuan yang masih muda, nonton film beberapa kali dalam seminggu: dan saya terus- menerus ditanyai orang, apakah saya mengenal Montgomery Clift atau apa pendidikan Doris Day sebelum menjadi bintang film. Bagi kebanyakan orang Mojokuto, film menegaskan konteks sosial dari mana saya datang ke dalam kehidupan mereka. Untuk meyakinkan mereka bahwa kebanyakan film Amerika hampir sama realistisnya dengan wayang dalam kehidupan sehari-hari orang Jawa, nyaris tidak mungkin. Selain menampilkan gambar tentang kehidupan Amerika, film pun memberi sebuah ideal baru pada mereka yang tertarik oleh “kemajuan”. Memang benar, orang Indonesia sering mencemoohkan film dan aspek-aspek seni populer Amerika lainnya—seperti buku-buku komik dan lagu-lagu populer—sebagai murah, kasar serta materialistis dan menyatakan bahwa mereka ingin menggabungkan keterampilan material Barat dengan kualitas spiritual Timur yang unggul: namun, orang Indonesia berada dalam posisi yang ganjil, yakni melancarkan sebuah usaha sosial untuk mengejar utopia yang tidak harus mereka impikan sendiri, tetapi dapat dilihat dimainkan untuk mereka setiap malam di gedung bioskop. Seni Kontemporer dan Munculnya “Kultur Pemuda” Kompleks kesenian-nasional mencerminkan, untuk sebagian besar, nilai-nilai inteligensia dari “kultur pemuda” yang baru muncul di Indonesia, sekelompok muda-mudi yang terpelajar, terpengaruh kota, tak pernah tenteram dan tercengkeram oleh ketidakpuasan yang mendalam terhadap adat tradisional serta oleh sikap yang sangat mendua terhadap Barat, yang mereka lihat sebagai sumber penghinaan dan “keterbelakangan” mereka serta sebagai pemilik jenis kehidupan yang mereka inginkan untuk diri mereka sendiri (tentu saja dengan dikurangi gangster, ciuman dan materialisme). Mereka memiliki komitmen yang tinggi untuk mengubah masyarakat ke arah impian-impian yang mereka pinjam, tetapi tak tahu bagaimana harus melakukannya.