Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Tingkeban diselenggarakan di rumah ibu si calon ibu dan sebuah slametan khusus disiapkan dengan unsur-unsur utama berikut ini, yang saya uraikan dengan beberapa maknanya, disertai dengan peringatan bahwa adalah mustahil untuk memperoleh kesepakatan di antara para informan tentang hal-hal ini: 1) 3 4) 5 6) Sepiring nasi untuk setiap tamu dengan nasi putih di atas dan nasi kuning di bawahnya. Nasi putih melambangkan kesucian, nasi kuning melambangkan cinta. Ini harus dihidangkan di atas wadah dari daun pisang yang direkatkan dengan jarum baja (raja dan bangsawan konon menggunakan jarum emas di masa “lalu") agar anak yang akan lahir kuat dan tajam pikirannya. Nasi dicampur dengan kelapa parutan dan ayam iris. Ini dimaksudkan untuk menghormati Nabi Muhammad maupun untuk menjamin slamet bagi semua peserta dan anak yang akan lahir. Biasanya tercakup di sini sesajen untuk Dewi Pertimah (secara harfiah berarti: “Dewi Hindu, Fatimah”—yakni puteri Muhammad dengan gelar Hindu) yang terdiri atas dua buah pisang yang diletakkan di dasarnya. Tujuh tumpeng kecil nasi putih yang terutama melambangkan tujuh bulan kehamilan, tetapi seringkali berbagai “hajat” lain ditambahkan, seperti untuk menghormati hari ketujuh dalam satu minggu, tujuh lapis langit dan yang semacamnya. Delapan (kadang-kadang sembilan) bola nasi putih yang dibentuk dengan genggaman tangan untuk melambangkan delapan (atau sembilan) Wali—penyebar Islam yang legendaris di Indonesia—dan khususnya untuk memuliakan Sunan Kalijaga, yang paling terkenal serta paling berkuasa dari semua wali, yang biasanya dianggap penemu wayang, slametan dan agama abangan pada umumnya. Sebuah tumpeng nasi yang besar, biasanya disebut tumpeng “kuat” karena ia dibuat dari beras ketan, yang maksudnya agar anak yang dalam kandungan itu kuat dan juga memuliakan danyang desa itu. Beberapa hasil tanaman yang tumbuh di bawah tanah (seperti singkong) dan beberapa buah yang tumbuh bergantung di atas (seperti buah-buahan pada umumnya), yang pertama untuk melambangkan bumi, sedangkan yang kemudian untuk melam- bangkan langit, yang masing-masing dianggap memiliki tujuh tingkatan.