Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
7) Tigajenisbubur: putih, merah (dibuat seperti itu dengan memberinya gula kelapa) dan campuran dari keduanya: yang putih di seputar bagian luar, sementara yang merah di tengah piring. Bubur putih melambangkan “air" sang ibu, sedangkan yang merah “air” ayah dan yang campuran keduanya (disebut bubur sengkala yang secara harfiah berarti bubur malapetaka) dianggap sangat mujarab untuk mencegah masuknya makhluk halus jenis apa pun. 8) Rujak legi, sebuah ramuan yang sedap dari berbagai buah-buahan, cabe, bumbu-bumbu dan gula. Ini paling penting dan khas dalam hubungannya dengan tingkeban: kebanyakan elemen lain ada dalam slametan lain, tetapi rujak hanya terdapat di sini. Konon bila rujak itu terasa “pedas” atau “sedap” oleh si ibu, ia akan melahirkan anak perempuan, sebaliknya kalau terasa biasa saja, ia akan melahirkan anak laki-laki. Semua itu hanyalah sedikit dari elemen-elemen utama tingkeban dan makna-makna yang menyertainya. Seorang informan abangan yang terpelajar, terutama yang berusia lanjut, bisa mengemukakan daftar 50jenis hidangan slametan, masing-masing dengan cara membuatnya yang khusus, makna simboliknya yang khusus dan ditujukan kepada penerima yang khusus pula. Namun, yang mengejutkan bahkan dalam contoh yang sedikit ini adalah percampuran yang kaya dari makhluk- makhluk, dewa serta tokoh-tokoh kebudayaan Islam, Hindu-Buddha dan Jawa asli, ke dalam sebuah sinkretisme yang besar. Dewi Hindu bergaul akrab dengan rasul-rasul Islam dan keduanya dengan danyang setempat: dan sedikit sekali tanda-tanda bahwa yang satu merasa heran melihat adanya yang lain di situ. Dalam sambutan pembukaan selama setengah jam pada tingkeban yang saya hadiri, seorang tua berusia sekitar 75 tahun mempersembahkan hidangan dan maksud baik kepada Nabi Adam dan Hawa, Nabi Muhammad, isterinya, anak-anaknya dan sahabat-sahabatnya: kepada danyang desa serta anak-anaknya yang menjaga keempat pojok desai kepada dua makhluk halus kembar yang menjaga orang yang terlibat dalam upacara itu, yang berasal dari (sebagaimana juga orang Jawa lainnya) bekas tali pusarnya serta air ketuban ibunya dan yang terus mengikutinya sepanjang hayatnya: kepada pancaindra (penglihatan, pendengaran, peraba, pencium serta indra bicara) dan keempat penjuru mata-angin: kepada nenekmoyang dari setiap yang hadir, kepada Nini