Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Jawa yang paling sederhana dan elementer. Dalam bentuk seperti ini, sajen menemukan tempat dalam hampir setiap aspek kehidupan mereka sehari hari. Dalam sebuah tingkeban yang diselenggarakan di sebuah desa sekitar 24 kilometer dari Mojokuto, sajen yang diberikan agak banyak dan terdiri atas barang-barang berikut: satu sisir rambut kecil satu sisir lain yang lebih bagus satu kotak kecil yang dibikin dari karton satu kaca rias, terbuat dari potongan kaca yang direkatkan kepada kertas koran sebungkus peniti beberapa benang tenun tradisional Jawa satu tempat gulungan benang dari kayu yang digunakan dalam menenun (ini khusus dalam tingkeban) satu kendi air kecil model Timur Tengah berbagai jenis bunga, rempah-rempah dan tanaman jamu dari kebun (0 macam) sepotong kemenyan kecil satu campuran buah pinang sejumlah tembakau uang 18,5 sen (harus uang logam kuno, namun yang ini sekarang jarang ada) sedikit nasi sebutir telur Guga khusus untuk tingkeban) Semuanya ditaruh dalam keranjang daun pisang yang besar dan diberi garis dengan buah pisang. Keranjang itu diletakkan pada satu sisi tempat para undangan slametan duduk. Bila bagian slametan dari tingkeban itu sudah selesai, sajen itu diberikan kepada dukun bayi yang memimpin upacara berikutnya dan yang biasanya juga membantu dalam kelahiran nanti. Namun, sekarang ini, dukun bayi yang melakukan upacara tingkeban tidak selalu menjadi bidan dalam kelahiran. Bahkan orang yang kemudian melahirkan anaknya di rumah sakit kadang-kadang mengadakan upacara tingkeban bersama seorang dukun bayi. Pola ini sangat umum: untuk sebuah pertunjukan wayang, sajen disiapkan dan diberikan kepada dalang: dalam perkawinan, dukun manten (spesialis perkawinan) yang menerimanya: dan dalam upacara mengawali panen, dukun wiwit (secara harfiah berarti “spesialis yang memulai”) yang memperolehnya. Pada