Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
upacara tingkeban, mungkin dukun manten yang tadinya meresmikan pernikahan pasangan itu yang mengetuai upacara dan bukan si dukun bayi: salah seorang informan saya mengatakan bahwa ia mengundang keduanya hadir dalam tingkeban. Ketika sambutan pembukaan sudah selesai, donga (do'a dalam bahasa Arab) telah dibacakan, hidangan sudah dicicipi dan dibungkus untuk dibawa pulang, maka upacara untuk tingkeban yang sebenarnya pun dimulai. Satu bak air yang ditaburi daun-daun bunga disiapkan air itu secara teoretis diambil dari tujuh mata air. Konon dalam air mandi seperti itulah, para dewa-dewi mandi dan karenanya, pasangan itu untuk sementara dianggap suci. Segayung demi segayung air disiramkan kepada mereka oleh sang dukun, yang mengucapkan mantera (japa): Dengan nama Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang! 'Saya berniat memandikan suami isteri ini, Saya tingkeb mercka dengan air dari tujuh mata air. Semoga semua keturunan mereka memperoleh keselamatan sojak hari ini dan seterusnya. Ini merupakan keharusan karena Allah (Maha Suci Dia yang Maha Luhur!). Makhluk Allah Seutas benang tenun Jawa kemudian diambil dari sajen, si perempuan mengikatkannya dengan longgar di pinggangnya. Si lelaki mengambil keris Jawa, mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepalanya untuk menghormatinya dan kemudian memotong benang itu dari bawah ke atas di sebelah dalam agar terpotong ke arah dirinya. Keris itu kemudian disarungkan. Dalam sebuah tingkeban yang saya lihat, keris milik nenekmoyang ibu si isteri yang digunakan dan kata orang, keris itu tidak pernah dipakai untuk keperluan lain, kecuali untuk tingkeban. Sementara si suami melakukan tugas ini, Sang dukun mengucapkan sebuah japa lainnya: Dengan nama Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang! Saya berniat memotong daun yang belum terbuka agar jadi terbuka (yakni benang itu, kadang-kadang benar-benar daun yang dipakai), Tetapi sebenarnya saya tidak memotong daun— 'Saya membuka jalan bagi jabang bayi supaya muncul 'Saya membatasi kau (si bayi) sampai sembilan bulan Semadi di rahim ibumu.