Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
didudukkan di depannya, atau seandainya kamar semacam itu tidak ada, tengah rumah pun memadai juga. Di sini, ia akan duduk tanpa bergerak samasekali selama empat jam sampai tengah malam, pada saat mana seorang bidadari akan turun dan memasukinya, untuk tinggal di sana sampai lima hari sesudah perkawinan. Itulah sebabnya semua pengantin pada hari pernikahannya tampak jauh lebih cantik daripada di hari-hari biasa. Sementara gadis itu duduk di sana, ibunya melaksanakan upacara membeli kembang mayang—“bunga-bunga yang sedang bermekaran". Kembang mayang adalah tumbuh-tumbuhan gabungan yang besar. Batang-batangnya terbuat dari batang pisang, “kumpulan bunga”-nya dari berbagai dedaunan yang diberi lekuk-lekuk di pinggirnya dan dililit ranting-ranting kelapa muda. Kesemuanya ini mewakili keperawanan kedua pengantin: dua buah kembang mayang dibuat untuk masing masing pengantin. Kalau pengantin laki-laki sudah pernah menikah sebelumnya, hanya dua buah kembang mayang saja yang dibuat: dan kalau pengantin perempuan yang sudah pernah menikah, upacara kepanggihan itu tak diperlukan lagi. Orang yang membuat kembang mayang biasanya adalah seorang pria yang agak tua, duduk di lantai bersama mereka dan ibu pengantin perempuan berlaku seolah-olah ia adalah tamu: Ibu : Bolehkah saya masuk? Tuanrumah : Silakan Ibu : Apakah desa ini subur dan makmur? Tuanrumah : Ya, desa ini subur dan makmur. Anda dari desa mana? Ibu : Saya dari desa Sidowareg. Tuanrumah : Oh, Anda datang dari jauh sekali. Apa yang Anda inginkan sebenarnya? Ibu : Saya sangat mengidamkan sesuatu: saya akan memohonnya dengan menangis. Anak saya menginginkan kembang mayang. Tuanrumah : Ya, kami punya kembang mayang. Namun apakah benar Anda ingin membelinya? Harganya mahal sekali. Ibu : Ya, saya akan membelinya. Berapa harganya? Tuanrumah : Oh, harganya dua setengah rupiah.