Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
dalam hal berpakaian. Gadis-gadis santri, khususnya yang di dalam kota, mengenakan gaun putih bersih yang agak mirip dengan gaun perkawinan Barat dan sehelai kudung, sementara pengantin pria mengenakan pakaian Barat dengan pici di kepala. Gadis-gadis santri di desa mengenakan kerudung dengan pakaian Jawa yang biasa. Sekarang, segala sesuatunya telah siap untuk pertemuan yang sebenarnya. Sebuah kain sarung tua milik pengantin perempuan dibentangkan di depan rumah di tempat mereka akan dipertemukan, tempat yang sudah dipilih berdasarkan petungan: arah kedatangan pengantin pria pun sudah ditetapkan dengan mempertimbangkan naga dina. Di ujung kain ini diletakkan sebuah mangkuk kuningan yang berisi air bunga dan sebutir telur ayam. Di bawahnya ditaruh kuk tenggala untuk sepasang lembu. Sebuah sajen khusus ditaruh di sentong tengah (atau tempat lain yang sederajat) yang terdiri atas kedelai, buncis hijau, buncis kuning, bawang, merica, secarik kain batik dalam tabung bambu, beras, bahan-bahan jamu, cermin, dua sisir pisang, kelapa muda yang sudah dikupas, sebutir telur, sebuah kendi kecil berisi air dan lampu minyak tanah berukuran kecil. Sajen seperti itu mungkin pula ditaruh di sekitar tempat yang berbahaya, sebutir kelapa dilempar ke sumur dan dukun manten berkeliling memercikkan air yang telah diberi mantera agar harta benda keluarga tidak hilang, rusak atau dicuri selama upacara perkawinan. Pada waktu yang sudah dipilih, pengantin perempuan muncul dari rumah, diikuti oleh dua orang anak perempuan yang membawa kembang mayang. Pengantin lelaki pun masuk dari luar diiringi pula oleh dua orang anak laki-laki yang membawa kembang mayang-nya. Kedua mempelai masing-masing menggenggam beberapa gulung kecil daun sirih dan ketika jarak mereka semakin dekat, mereka saling melempar daun sirih. Menurut teori, siapa yang duluan mengenai sasaran akan menjadi pasangan yang dominan dalam perkawinan itu. Ada satu aturan tak tertulis bahwa pengantin perempuan harus berusaha mengalah dalam kontes ini, yang tampaknya memang selalu dita'ati. Setelah mereka berdiri berhadap-hadapan di atas kain pengantin perempuan yang telah dibentangkan (yang melambangkan ketelanjangan si perempuan di depan suami dan kepasrahannya kepada si suami), maka pengantin perempuan akan mengangkat sembah,5 sikap tradisional seorang bawahan ketika menghormat atasannya, atau sekadar berjabat tangan menurut Islam (salaman). Dewasa ini, orang akan menjumpai