Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
upacara sembah hanya dalam perkawinan priyayi, sementara kalangan santri senantiasa hanya melakukan salaman. Setelah perbuatan itu selesai, kedua anak perempuan dan laki- laki itu kemudian saling bertukar tanaman tiruan secara diagonal, menyeberang di depan pasangan mempelai itu, yang melambangkan pelepasan keperawanan kedua mempelai. Pengantin perempuan berlutut memecahkan telur di kaki pengantin pria (putihnya melambangkan hi- langnya kesucian diri dan kuningnya melambangkan pecahnya selaput dara), kemudian membasuh kaki pria itu dengan air bunga. Perbuatan terakhir ini, yang melambangkan pengabdiannya kepada suami, sering ditiadakan sekarang ini, karena dianggap tidak sesuai dengan ide mutakhir mengenai kedudukan yang setingkat antara laki-laki dan perempuan. Si gadis kemudian bangkit, berbalik menghadap ke dalam rumah, berdiri di sisi si lelaki di atas kedua kuk tenggala lembu, yang melambang- kan bahwa keduanya tak akan berpisah lagi dan bahwa hanya mereka berdualah yang benar-benar terlibat, yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di antara suami isteri. Terkadang masing-masing kemudian mencecap air bunga dari gayung batok kelapa yang diberikan oleh ibu mempelai perempuan. Lalu, sehelai selendang dilingkarkan menyelimuti kedua mempelai bersama ibu si perempuan seakan- akan ia menggendong keduanya dengan slendang, kain yang biasa digunakan seorang ibu untuk menggendong bayi di pinggul sampai ia bisa berjalan. Isyarat ini dimaksudkan untuk menyatakan bahwa ibu mempelai perempuan telah mengambil menantunya sebagai anaknya sendiri bersama dengan anak perempuannya. Sedangkan pemberian air bunga melambangkan keinginannya untuk tetap merawat keduanya. Kedua mempelai kemudian masuk ke rumah, lalu didudukkan di depan sentong tengah (atau yang sederajat dengan itu) dan diam di sana tanpa bergerak kecuali untuk beberapa keperluan upacara agama serta menyalami tamu-tamu yang datang satu per satu. Diam tanpa gerak biasa diasosiasikan dengan kekuatan spiritual menurut alam pikiran orang Jawa. Duduk dengan ketenangan mutlak, tanpa makan atau tidur dan memusatkan pikiran kepada satu titik imajiner hingga pikiran jadi kosong dari semua sensasi dan pemikiran—tapa—adalah jalan utama ke arah kekuatan dalam dan kekuasaan luar. Jadi, sebagaimana raja-raja kuno duduk kaku seperti patung perunggu Buddha ketika penobatan dilangsungkan atau ketika negeri mereka berada dalam