Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Surah al-Baqarah (2) Kelompok I ayat 2 penggunaan kata hddzd/ini, untuk menunjukkan betapa dekat tuntunantuntunannya pada fitrah manusia. Al-Kitab adalah al-Qur'an. A/ yang dibubuhkan pada awal kata kitdb dipahami dalam arti kesempurnaan. Dengan demikian, a/-kitdb adalah kitab yang sempurna. Sedemikian sempurnanya sehingga tidak ada satu kitab yang wajar dinamai d/-kitdb kecuali kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. ini. Karena itu, begitu kata tersebut terdengar maka pikitan langsung menuju kepada al-Our'an, walaupun dalam redaksinya tidak disebut bahwa yang dimaksud adalah al-Qur'an. Tidak ada keraguan padanya, yakni bukti-bukti rasional dan emosional menyangkut kebenaran sumber dan kandungannya sedemikian jelas, sehingga tidak wajar seorangpun ragu terhadapnya. Ada juga yang membaca ayat ini dengan berhenti pada kata («4y) raib (ragu), sehingga memahami ayat ini sebagai larangan ragu; jangan ragu tentang kebenaran yang dikandungnya, jangan ragu mengamalkannya, karena Dia adalah petunjuk atau di dalamnya ada petunjuk bagi seluruh manusia, walau yang mengambil manfaatnya hanya orang yang bertakwa. Ragu yang ditunjuk oleh ayat ini bukan hanya dalam arti syakk, tetapi syakk dan sangka buruk. Itulah yang dimaksud dengan ( w=) ) ruib. Kalau sekadar syakk atau keraguan yang mendorong seseorang untuk berpikir positif, maka al-Qur'an tidak melarangnya, karena keraguan semacam itu akan dapat mengantar seseorang menemukan kebenaran. Ini jika Anda memahami penggalan itu dalam arti larangan. Sementara ulama memahami kata raib dalam arti kegelisahan jiwa, karena keraguan menimbulkan kegelisahan. Petaka juga dinamai raih karena ia juga menimbulkan kegelisahan. Ada juga ulama yang memahami kata raib dalam arti keraguan yang mendekati syakk, dalam arti apa yang dinamai raib adalah satu tingkat keraguan yang belum mencapai tingkat syakk. Seperti diketahui kata sya&& (dalam bahasa Arab) berarti seimbangnya kedua sisi pembenaran dan penolakan. Jika Anda mendengar satu berita, sedang tingkat pembenaran dan penolakan Anda seimbang — masing-masing 50 Yo, maka ketika itu Anda mengalami syakk. Nah, bila kata raih dipahami sebagai tingkat di bawah syakk, dan belum mencapainya, maka penggalan ayat ini seakan-akan menyatakan bahwa kitab al-Qur'an bukan saja tidak wajar disentuh oleh syakk (keraguan) yang menjadikan hati dan atau pikiran seseorang seimbang menyangkut pembenaran dan penolakannya, tetapi mendekati keseimbangan itupun tidak wajar terjadi. Bahwa ayat ini tidak sepenuhnya membantah atau menolak untuk terjadinya sesuatu yang belum sampai tingkat syakk, karena ia bermaksud