Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Kelompok I ayat 2 Surah al-Baqarah (2) memberi tempat bagı tanda-tanya yang boleh jadi muncul dalam benak tentang sumber dan kandungan al-Qur'an. Dengan demikian kata raib memberi tempat bagi iman dalam tahapnya yang pertama, karena iman dalam tahap pertama tidak luput dari sekian banyak tanda-tanya. Sebentar Anda akan menemukan penjelasan tentang makna dan hakikat iman. Kata ( saa ) budan/ petunjuk adalah bentuk kata jadian (infinitive noun). Maknanya telah diuraikan ketika menafsirkan ayat keenam surah al-Fatihah. Bentuk kata serta penempatannya sesudah kata yang menunjuk kepada kitab suci (itulah al-kitab) yang dipilih untuk ayat ini mengandung makna bahwa petunjuknya telah mencapai kesempurnaan sehingga dia tidak sekadar berfungsi untuk memberi petunjuk, tetapi ia adalah perwujudan dari petunjuk itu. Al-Qur'an adalah penampilan dari hidayah Ilahi. Jika Anda berkata “si A berani” maka tidak jelas batas keberaniannya, 50, atau 60 atau 80 Yo. Tetapi jika Anda berkata dia adalah keberanian, atau dia menampilkan keberanian, maka ketika 1tu seluruh aspek dan isi dari makna keberanian telah berada dan tampil pada dirinya, atau dengan kata lain keberaniannya telah mencapai tingkat 100 Yo. Demikian juga dengan kata budan. Makna int diperkuat lagi dengan bunyi dengung (141) pada kata tersebut. Takwa artinya menghindar. Orang bertakwa adalah orang yang menghindar. Yang dimaksud oleh ayat ini mencakup tiga tingkat penghindaran. Pertama, menghindar dari kekufuran dengan jalan beriman kepada Allah. Kedua, berupaya melaksanakan perintah Allah sepanjang kemampuan yang dimiliki dan menjauhi larangan-Nya. Ketiga, dan yang tertinggi, adalah menghindar dari segala aktivitas yang menjauhkan pikiran dari Allah swt. Di atas telah dikemukakan bahwa kata hudan adalah bentuk kata jadian atau mashdar. Bentuk ini tidak mengandung informasi tentang waktu. Ia dapat berarti masa kini, atau datang dan lampau, berbeda dengan bentuk mudhari" (kata kerja masa kini, dan datang) atau mddhi (kata kerja masa lampau). Atas dasar itu maka petunjuk al-Qur'an kepada manusia, dapat dipahami dalam arti kitab suci itu kini sedang memberi petunjuk kepada orang-orang bertakwa yang hidup pada masa kehadiran al-Qur'an. Dalam hal ini yang dimaksud dengan orang bertakwa adalah yang mempersiapkan jiwa mereka untuk menerima petunjuk atau yang telah mendapatkannya tetapi masih mengharapkan kelebihan, karena petunjuk Allah tidak terbatas. “Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk” (QS. Maryam (19): 70). Dapat juga penggalan ayat itu berarti al-Qur'an telah memberi petunjuk orang-orang yang bertakwa pada masa lalu. Dalam konteks ini tentu saja petunjuk al-Qur'an yang dimaksud adalah ayat-ayatnya yang turun