Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Kelompok I ayat 6-7 Surah al-Baqarah (2) informasi tersebut dengan menggunakan kata yang mengandung makna kepastian. Sementara ulama tidak memahami tujuan kata sesungguhnya seperti yang disebut di atas. Ini karena mereka enggan menilai Nabi saw. dan para sahabat beliau dinilai memiliki walau “semacam keraguan” atau ditempatkan pada posisi ragu walau dalam bentuk sekecil apapun. Atas dasar itu mereka memahami kata sesungguhnya pada ayat ini sekadar sebagai penguat kandungan berita itu. Penguatan ini diperlukan karena sikap kaum musyrikin yang menolak keimanan — walau setelah peringataa yang demikian jelas — sungguh aneh dan ajaib. Nah, untuk menghilangkan keanehan yang menyelimuti jiwa pendengar informasi ini, ayat tersebut didahului oleh kata yang mengandung kepastian. Al-Qur'an menggunakan istilah kufur untuk berbagai makna. Sementara ulama menguraikan lima macam kekufuran, yaitu apa yang mereka namakan (Sex WS) kufr juhid yang terdiri dari dua macam kekufuran, pertama mereka yang tidak mengakui wujud Allah, seperti halhalnya orang-orang ateis dan orang-orang komunis, sedang kufur juhud yang kedua adalah mereka yang mengetahui kebenaran tetapi menolaknya, antara lain karena dengki dan iri hati kepada pembawa kebenaran itu. Para ulama menyebut kekufuran ketiga dengan istilah (is AS ) kufr ni mah dalam artı tidak mensyukuri nikmat Allah, seperti antara lain yang dusyaratkan oleh firman-Nya: “Kalau kamu bersyukur pastilah Ku tambah untuk kamu (mkmat-Ku) dan bila kamu kafir, maka sesungguhnya siksa- Ku pastilah amat pedih” (QS. Ibrahim 14: 7). Kufur keempat adalah kufur dengan meninggalkan atau tidak mengerjakan tuntunan agama kendati tetap percaya. Ini seperti firman-Nya: Apakah kamu percaya kepada sebagian alKitab dan kafir terhadap sebagin lainnya?” (QS. al-Baqarah [2]: 85) dan yang kelima adalah (8s! y 4S) kufur bara'ah dalam arti tidak merestui dan betlepas diri, seperti firman-Nya, mengabadikan ucapan Nabi Ibrahim kepada kaumnya: “Kami telah kafir kepada kamu dan telah jelas antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya” (OS. al-Mumtabanah (60): 4). Kekufuran dapat terjadi antara lain karena ketidaktahuan atau pengingkaran terhadap wujud Allah, Tuhan Yang Maha Esa, atau melakukan satu tindakan, ucapan atau perbuatan yang disepakati oleh ulama — berdasar dalil-dalil yang pasti dari al-Qur'an dan Sunnah — bahwa tindakan tersebut indentik dengan kekufuran, seperti misalnya menginjak-injak al-Qur'an, sujud kepada berhala dan lain-lain. Sementara ulama mendefinisikan kekufuran dengan “Pelanggaran khusus terhadap kesucian Tuhan, akibat ketidaktahuan tentang Allah dan sifat-sifat-Nya, atau akibat kedurhakaan kepada-Nya.