Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Kelompok I ayat 14-15 Surah al-Baqarah (2) akal yang terlihat pada percakapan atau tindakan kaum munafikin cukup jelas, antara lain seperti ucapan-ucapan mereka yang diabadikan oleh ayat ini, serta sikap mereka yang mendua, sekali kesana dan sekali ke sini. Ucapan di atas, boleh jadi lanjutan dari ucapan mereka yang telah direkam pada ayat 11, dan boleh jadi kandungan ayat ini merupakan ucapan sekelompok orang munafik yang telah lelah dengan kemunafikan rekanrekannya, dan tidak lagi menemukan satu cara baru untuk mengelabui kaum mukmin. Kata (s1) an-nds/ manusia yang dimaksud di sini adalah orang-orang tertentu yang ketika itu telah dipahami oleh mitra bicara dan ada dalam benak mereka yakni pengikut Nabi Muhammad saw. Ada juga yang memahaminya dalam arti manusia secara umum. Kata tersebut oleh para pengucapnya dimaksudkan sebagai ajakan kepada mitra bicaranya untuk meninggalkan apa yang selama ini mereka lakukan dan hidup beriman seperti manusia pada umumnya. Bukankah manusia terdorong untuk meniru orang banyak, yakni meniru manusia pada umumnya? Pendapat terakhir ini tidak didukung oleh konteks ayat, tidak juga oleh jawaban orang-orang munafik itu terhadap ajakan ini, sebagaimana terbaca dalam ayat ini. Ada lagi yang memahami kata an-nds dalam arti. manusia yang telah mencapai tingkat kemanusiaan yang terpuji, yang mengikuti tuntunan akal yang sehat. Yapg terakhir ini adalah pendapat pakar tafsir al-Baidhawi. AYAT 14-15 Ih Loe NE D A Tenan ai Da Mia en Ni Mug Wa) Sana UI II agb l A rg Gale 1G Iial Uya) 151 E OE E a ossa o i aa a danae EEEE G rep an Sa Sa A Sh ai ik O y Hias PU “Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, “Kami telah beriman.” Dan bila mereka pergi menyendiri dengan setan-setan mereka, mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanyalah pengolokolok.” Allah memperolok-olokkan mereka dan membiarkan mereka terombangambing dalam kesesatan mereka.” Setelah menjelaskan sifat yang melekat pada kepribadian mereka, kini dijelaskan perlakuan mereka terhadap orang-orang mukmin dan kafir. Mereka tidak sekadar berbohong, menipu dan picik, tetapi lebih dari itu, mereka juga sangat lihai, dan berhati culas. Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang beriman dengan iman yang benar mereka mengatakan dengan