Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Kelompok I ayat 14-15 Surah al-Baqarah (2) Penamaan orang-orang durhaka atau pemimpin-pemimpin kaum munafikin dengan (y&t&) syaydthin — jamak dari syaithin — untuk menggambarkan betapa kedurhakaan mereka telah mencapai puncaknya, sehingga kedurhakaan tersebut tidak terbatas pada diri mereka saja, tetapi telah menyentuh orang lain. Memang secara umum kata syaithin dipahami sebagai semua yang membangkang baik jin maupun manusia dan mengajak kepada kedurhakaan. Bila seorang sekadar durhaka tanpa mengajak pihak lain untuk berbuat serupa, maka ia belum wajar dinamai syaithdn. Kata (Ulas) syaithan boleh jadi terambil dari akar kata (oles) yathana yang berarti jauh karena setan menjauh dari kebenaran atau menjauh dari rahmat Allah. Boleh jadi juga ia terambil dari kata (&tx) sydtha dalam arti melakukan kebatilan atau terbakar. Bahkan dari sekian ayat al-Our'an yang lain demikian pula dari haditshadits Nabi, penulis berkesimpulan bahwa kata setan, tidak terbatas pada manusia atau jin tetapi juga dapat berarti pelaku sesuatu yang buruk atau tidak menyenangkan, atau sesuatu yang buruk dan tercela. Bukankah setan merupakan lambang kejahatan dan keburukan? Bukankah al-Qur'an menamai ular dengan setan sebagaimana firman-Nya ketika menjelaskan satu pohon di neraka yakni: ( b3! p3j) HIS Agalb ) thaluhd ka'annahu ru'isu asy-syayâthin/ mayangnya seperti kepala setan-setan (OS. ash-Shaffat (37): 65). Penggunaan kata (Jl) 7/4 pada firman-Nya: (pgi j} I> ljg) wa idzd khalau ilå syaydthinihim