Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Kelompok I ayat 16 Surah al-Baqarah (2) pun akan mengambil tindakan yang serupa dengan memperolok-olokkan mereka bukan dalam arti Allah mengolok-olok. Didahulukannya kata “Allah” dalam penggalan ayat ini untuk menggaris bawahi bahwa yang bertindak membela kaum mukmin yang diperolok-olokkan adalah Allah sendiri, sebagaimana ditegaskan oleh firman-Nya: “Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman” (QS. al-Hajj (22): 38). Ini perlu karena selama ini kaum munafikin menduga bahwa toleransi Nabi saw. terhadap ulah mereka adalah akibat kelemahan. Sepakat para ulama, menegaskan bahwa kata memperolok-olok pada penggalan ayat di atas, sama sekali tidak dalam arti kebahasaan yang populer dikenal selama ini. Karena, hal tersebut buruk dan tidak wajar disandang, jangankan oleh Allah, oleh manusia serius terhormat pun tidak! Penggunaan kata itu di sini merupakan majaz (majas), atau apa yang dikenal dalam sastra Arab dengan istilah musyakalah yaitu menggunakan satu kata yang bukan itu yang seharusnya digunakan, tetapi karena ia berbarengan dengan kata yang lain yang digunakan sebelumnya, maka kata yang lain itulah yang digunakan. Di sini digunakan sebelumnya kata memperolok-olok, rmaka ketika menggambarkan sanksi yang akan dijatuhkan Allah, bukan kata sanksi yang digunakan tetapi kata memperolok-olok sebagai musydkalah. Ini untuk mengisyaratkan bahwa sanksi itu setimpal dengan dosa mereka. AYAT 16 da NAS Way Aa Un Va SN TAN yA a ayl Kp "Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan sejak dahulu tidaklah mereka termasuk kelompok orang-orang yang mendapat petunjuk.” Isyarat jauh “itulah” yang digunakan pada awal ayat ini, mengesankan bahwa kesesatan mereka, yang disebut sifat-sifatnya dalam ayat-ayat yang lalu sangat jauh merasuk ke dalam jiwa mereka. Mereka itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk, yakni menanggalkan fitrah keberagamaan dan menggantikannya dengan kekufuran. Maka berarti, tidaklah beruntung perniagaan mereka, dan sejak dahulu sebelum kerugian itu tidaklah mereka termasuk kelompok orang-orang yang mendapat petunjuk dalam perdagangan mereka, atau petunjuk keagamaan. Ini karena mereka tidak menyiapkan